TRENGGALEK, Koranmadura.com – Istri Calon Presiden nomor urut 3 Ganjar Pranowo, Siti Atikoh mengunjungi kelompok perempuan pengrajin bambu di Desa Winong, Trenggalek, Jawa Timur pada Senin 18 Desember 2023, sore.
Jumlah perempuan pengrajin bambu ini sebanyak 300 orang. Ini adalah bagian dari safari politik Siti Atikoh ke Jawa Tengah dan Jawa Timur periode 17-20 Desember 2023.
Sebelumnya, Siti Atikoh sudah berkampanye di Solo, Jawa Tengah, pada Minggu 17 Desember 2023 dan Madiun pada Senin 18 Desember 2023.
Saat tiba di lokasi, Siti Atikoh serta rombongan langsung disambut Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin dan sang istri Novita Hardini.
Siti Atikoh lalu dipersilakan untuk bergabung bersama pengrajin bambu di Desa Winong.
Tak butuh waktu lama, Atikoh langsung duduk di atas karpet yang terletak di atas tanah. Dia duduk sama rata dengan para pengrajin.
Di sana, ibu-ibu sedang menganyam besek. Siti Atikoh lalu diberikan potongan bambu kering untuk ikut mengayam besek. Tanpa ragu, perempuan kelahiran Purbalingga itu langsung menganyam.
Tampak seorang ibu memberikan arahan kepada Siti Atikoh agar anyaman bambu bisa membentuk dasar besek. Atikoh pun tampak tekun mengikuti arahan tersebut.
Sambil menganyam, Siti Atikoh juga berdiskusi dengan ibu-ibu pengrajin.
Luar Biasa
Saat memberikan sambutan, Siti Atikoh menyampaikan bahwa ibu-ibu pengrajin ini sangat luar biasa. Dia juga memuji Novita, istri bupati Trenggalek, yang aktif membina kelompok pengrajin ini.
“Saya mengamati Mbak Novita keberpihakannya kepada wanita luar biasa sekali. Kinerjanya secantik orangnya,” katanya.
Siti Atikoh juga menilai kelompok ini mendapat pelatihan sehingga mampu melakukan penjualan. Meski demikian, Atikoh meminta para ibu agar menyebarkan ilmu tersebut kepada orang lain.
Siti Atikoh menyampaikan, para pengrajin ini bisa memproduksi empat kodi besek setiap minggu.
Dia juga menyerap aspirasi bahwa para pengrajin ketika menjual hasil produknya dibeli dengan harga yang stabil.
Atikoh juga menyemangati para ibu agar turut membantu suami untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
“Bisa memberikan kontribusi ekonomi di keluarga,” kata Atikoh.
Sementara itu, Novita mengatakan pihaknya berupaya untuk mendorong kemandirian ekonomi kecil menengah sehingga tidak ada kaum muda yang harus mencari kerja ke luar negeri sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI).
“Dulu Trenggalek penyumbang TKI terbesar. Dulu belum lulus SMA, belum lulus SMP, penginnya kerja di luar negeri. Dengan adanya kegiatan ini, bisa menurunkan angka tenaga kerja yang ke luar negeri,” kata Novita. (Gema)