SAMPANG, koranmadura.com – Jawa Timur tengah menghadapi potensi peningkatan bencana hidrometeorologi basah, mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang, Madura, untuk intensif berkoordinasi dan bersiap-siap. Kepala Pelaksana BPBD Sampang, Candra Romadhani Amin, mengungkapkan bahwa hasil rapat dengan BNPB di Surabaya pertengahan Januari 2024 lalu menegaskan peningkatan risiko bencana hidrometeorologi di wilayah tersebut.
Menghadapi proyeksi ini, Candra Romadhani Amin menyatakan bahwa BPBD Sampang telah mengundang berbagai pihak berkompeten, termasuk TNI, Polri, Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA), Palang Merah Indonesia (PMI), Forum Pengurangan Risiko Bencana, serta enam Desa Tangguh Bencana (Destana), seperti Destana Rongtengah, Dalpenang, Gunung Sekar, Karang Dalem, Tanggumong, dan Jrengik.
Dalam pertemuan awal tersebut, pihak BPBD akan bersama-sama membahas strategi dengan Sat Polairud Polres Sampang, relawan, serta OPD terkait seperti Dinkes KB, PUPR, dan pertanian, dengan tujuan mengurangi dampak negatif yang mungkin timbul akibat bencana.
Candra menjelaskan bahwa ada dua jenis bencana hidrometeorologi, yaitu hidrometeorologi kering dan hidrometeorologi basah. Potensi bencana hidrometeorologi kering melibatkan kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), sementara hidrometeorologi basah melibatkan bencana banjir, longsor, puting beliung, gempa bumi, hingga tsunami.
“Penting untuk dicatat bahwa di Sampang, bencana banjir lebih sering terjadi terutama di wilayah perkotaan. Sedangkan longsor dan puting beliung hanya terjadi di beberapa lokasi tertentu,” tambahnya.
Dalam merespons potensi bencana, pihak BPBD juga membahas prediksi dampak El Nino yang diperkirakan terjadi pada bulan Februari.
“Dari data BMKG, kita dapat memahami dampak El Nino pada kondisi cuaca selama tiga tahun terakhir di Provinsi Jawa Timur. Prediksi kami menunjukkan kemungkinan terjadinya bencana akibat El Nino pada bulan Februari,” tutupnya. (MUHLIS/DIK)