Oleh Miqdad Husein
Calon Presiden Nomor urut 2 Prabowo Subianto, seperti tersebar melalui video, sedang berjalan tertatih di sebuah gang sempit.
Di depannya, tampak seorang laki-laki yang entah pengawal atau ajudan pundaknya menjadi tempat pegangan Prabowo ketika berjalan.
Secara jelas terlihat betapa susah payah Prabowo berjalan menuruni gang sempit.
Berbagai komentar netizen berhamburan. Sebagian besar memperlihatkan rasa kasihan kepada Prabowo yang berjalan saja tertatih.
Komentar agak sarkastis menyindir dengan mempertanyakan bagaimana mengurus Indonesia dari Sabang sampai Merauke, jika berjalan saja harus dibantu orang lain.
Netizen yang berpikir kritis memberikan komentar agak lebih serius. Mereka mempertanyakan untuk apa Prabowo susah payah blusukan.
Bukankah sebagaimana disampaikan berbagai komentar anggota TKN Prabowo Gibran optimis, bisa memenangkan konstestasi Pilpres 2024 cukup satu putaran. Untuk apa perlu susah payah blusukan?
Hasan Nasbi, juru bicara TKN bahkan berani menegaskan bahwa pasangan nomor 2 itu hanya memerlukan satu juta suara lagi untuk menang satu putaran.
Itu artinya, tinggal menggali memanfaatkan simpul-simpul masyarakat yang belum tergarap. Tak perlu blusukan segala. Sebuah kontradiksi dan ironi antara ucapan dan fakta riil.
Wajar jika banyak kalangan justru memberikan analisa lebih dalam lagi bahwa Prabowo melakukan blusukan karena secara riil makin sulit menang satu putaran.
Beberapa survei menyebut angka elektabilitas pasangan nomor 2 stagnan. Survei lain menyebut terjadi penurunan elektabilitas sehingga walau sangat sulit, Prabowo didorong blusukan.
Maka blusukan, yang pernah dilakukan Jokowi pada Pilpres 2014 dan 2019 pun dicontoh. Sebuah ironi, karena Budiman Sudjatmiko, anggota TIM TKN Prabowo justru secara tegas menyebut sekarang ini bukan lagi era blusukan. Lagi-lagi kontradiksi menggelikan.
Di sini makin terlihat bahwa optimisme yang selama ini diteriakkan TIM Paslon nomor 2 sebenarnya jauh dari realitas. Alih-alih menang satu putaran, elektabilitasnya bahkan makin menurun.
Bukan hal aneh jika belakangan ditemukan praktek tak elok KPU seperti kasus suara Taiwan, simulasi kertas suara yang hanya mencamtumkan dua pasangan dan entah apalagi. Sebuah usaha ‘haram’ karena kondisi tak sesuai harapan.
Selain blusukan, beberapa hari terakhir ini, beredar video makan malam Jokowi dan Prabowo.
Kehadiran awak media memperlihatkan bahwa pertemuan itu memang sengaja dilakukan terbuka agar menjadi konsumsi berita.
Lagi-lagi pertemuan terbuka di rumah makan itu, bukan hanya memperlihatkan sikap inkonsisten Jokowi, yang selalu meneriakkan perlunya sikap netral.
Namun juga mengindikasikan fakta-fakta elektabilitas pasangan nomor 2 yang terus menerus menurun.
Pertemuan itu tampak ingin memberikan paparan kepada masyarakat bahwa Jokowi bersama Prabowo.
Melalui pertemuan itu, diharapkan ada efek elektoral dari Jokowi. Sebuah upaya, yang tampaknya sia-sia karena masyarakat semakin cerdas sehingga tidak akan terpengaruh oleh berbagai manuver yang melabrak etika.
Blusukan dan makan malam Jokowi dengan Prabowo membuka tabir riil bahwa sesungguhnya berbagai pemberitaan yang menyebut pasangan nomor 2 demikian unggul jauh dari dua pasangan lainnya, tidak lebih dari pepesan kosong.
Masyarakat yang makin cerdas, tidak dapat lagi dibohongi berbagai survei partisan, yang diduga mengelabui masyarakat. Begitulah. ***