Jakarta, Koranmadura.com – Ketua DPD PDI Perjuangan (PDIP) Jawa Timur, Said Abdullah, menegaskan bahwa partainya berkomitmen memperjuangkan nasib rakyat kecil atau wong cilik.
“Kami bersama-sama berkepentingan untuk mencapai kemiskinan ekstrem nol persen. Saat ini, angka kemiskinan ekstrem di Indonesia sudah mencapai 1,2 persen. Itulah nasib wong cilik yang tidak boleh kita lupakan dan ditinggalkan. Hati, rasa, pikiran kita selalu tertuju kepada wong cilik,” kata Said dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu (21/1/2024).
Said mengatakan bahwa PDI Perjuangan sangat serius dalam memperjuangkan nasib wong cilik. “Tingkat kemiskinan tahun demi tahun akan kita tekan sedemikian rupa hingga tingkat kemiskinan kita menurun,” ujarnya.
Selain itu, Said mengatakan bahwa PDI Perjuangan senantiasa mengingatkan agar jangan sekali-kali melupakan sejarah atau Jasmerah. “Karena memang akar dari PDI Perjuangan adalah wong cilik, kaum sandal jepit, kaum Marhaen,” tambahnya.
Hal tersebut disampaikan Said dalam rangka melanjutkan penegasan Ketua DPP PDI Perjuangan sekaligus Ketua DPR RI Puan Maharani saat meresmikan Taman Pemuda Soekarno di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Jumat (19/1/2024).
Pada kesempatan itu, Puan mengingatkan pentingnya menghargai dan melestarikan sejarah agar generasi penerus tidak melupakan para pendiri bangsa. Salah satunya adalah tentang sejarah tokoh proklamator Indonesia, Presiden pertama RI Soekarno.
“Selama kita tidak bisa menghargai para pendahulu kita, para pahlawan kita, maka bangsa ini akan seperti bangsa yang lupa kacang akan kulitnya,” tutur Puan dalam pidatonya.
Puan menjelaskan bahwa Bung Karno sangat berpihak kepada wong cilik.
“Ajaran agar selalu berpihak kepada wong cilik, kepada wong cilik, kepada wong cilik. Kenapa wong cilik-nya saya sebut tiga kali? Karena memang kita harus selalu berpihak kepada wong cilik, rakyatnya Indonesia, masyarakatnya Indonesia,” imbuh Puan. (Icel)