Problem yang mendominasi perjalanan pendidikan, antara lain menyangkut soal relasi-edukatif yang dimulai dari keluarga. Etalase Pendidikan secara nasional tercermin dalam keluarga. Apabila Pendidikan di tingkatan keluarga relasi-edukatif yang ada terkonfirmasi baik, ada kemungkinan Pendidikan anak di luar keluarga juga baik. Sebaliknya, Pendidikan anak di tengah keluarga kurang baik, maka di luar rumah berpotensi tidak atau kurang baik.
Diskursus inilah yang ditemukan dalam sebuah riset, terutama di Sumenep; Pendidikan Islam Keluarga Buruh Perempuan di Pabrik Rokok. Fakta terungkap, perempuan yang bekerja sebagai buruh, yang meninggalkan rumahnya, yang meninggalkan anak-anaknya di rumah, merasakan kegelisahan dari sisi kualifikasi pendidikan anak-anaknya.
Ada beberapa fakta yang diungkap perempuan dalam riset kualitatif ini. Pertama, Perempuan merasakan dirinya sangat lama berada di luar rumah. Mereka bertolak dari rumah pada pagi hari di sekitaran pukul 05.00 pagi. Jarak tempuh dari rumah ke tempat kerja sekitar 40 menit – 60 menit. Mereka baru sampai di rumahnya setelah pulang kerja di sekitar pukul 17.00. Dengan kata lain, mereka berada di luar rumah selama 12 jam. Di jarak dan jeda waktu di luar rumah yang berlangsung selama setengah hari ini, sejatinya dirasa berat sebab tidak bisa dekat dan mendidik anak-anaknya. Tetapi Perempuan dalam hasil riset ini mengaku tidak menemukan pilihan yang lebih baik lagi, selain membantu ekonomi keluarga yang jauh dari cukup.
Kedua, mereka, perempuan mengaku alami siksaan batin karena meninggalkan anaknya, bahkan pada saat anak-anaknya belum bangun. Ketiga, Perempuan merasa berhutang waktu untuk menyiapkan anak-anaknya sebelum berangkat ke sekolah dan sepulang sekolah sebelum senja untuk mengaji. Keempat, mereka sesungguhnya tidak yakin, kasih yang diberikan orang lain tidak setulus orangtua (ibu) kandungnya. Tetapi, sekali lagi, kenyataan inilah yang mereka alami karena situasi republik ini, sedang tidak baik-baik saja.
Dalam konteks Pendidikan, anak butuh asupan pengetahuan justru dari orang yang lebih berhak, terutama ibunya, sebagai sosok yang paling mengerti dibanding orang lain. Ada pendekatan seorang ibu terhadap anak yang tidak bisa tergantikan dari sosok manapun. Bukan saja karena ibu yang mengandung anak, tetapi kasih ibu sepanjang usia kepada anak-anaknya. Kaum ibu itu memiliki keinginan kuat untuk mendidik, terutama menyangkut dua hal, Pendidikan tatakrama (akhlakul karimah) dan Pendidikan Agama Islam (Attarbiyah al Islamiyah).
Problematika Pendidikan Anak
Ada temuan, kecenderungan anak kontemporer lebih banyak berguru kepada yang didapatkannya di medsos melalui gadget. Penggunaan IT yang masuk ke ruang pribadi anak ini, dianggap sebagai model (tak terkontrol). Bisa dibayangkan, orangtua bekerja dan anak hanya berteman dengan gadget, maka, dalam memori anak, yang muncul di layar adalah guru alternatif yang merangsang anak untuk meniru. Oleh karena itu, peran orangtua terutama ibu, yang dianggap sebagai first school for children, sangat urgen kehadirannya secara fisik. Tetapi fakta di lapangan terutama dalam kosmologi-fenomenologis dalam riset ini, memunculkan kisah pilu.
Pendidikan, harus disadari para pihak bukan semata-mata tanggungjawab pemerintah dan lingkungan sekolah lainnya. Pendidikan anak kontemporer ini merupakan tanggungjawab Bersama, terutama di internal keluarga. Model pembelajaran bagi anak harus dimulai dari rumah masing-masing, dari keluarga. Abdurahman Wahid (Gus Dur), pernah mengatakan bahwa baik-tidaknya penyelenggaraan Pendidikan itu dapat dilihat dari seberapa baik orangtua mendidik anak-anaknya. Ketidakbaikan Pendidikan di rumah bagi anak, akan berefek domino. Artinya, saat seorang anak tidak baik di rumahnya, lalu ke luar dari rumah, maka ia berpotensi menciptakan ketidakbaikan di rumah yang lain.
Sebaliknya, anak yang mendapatkan Pendidikan yang baik terutama menyangkut PAI (Pendidikan Agama Islam) dan Akhlaqul Karimah di rumah, saat anak ke luar dari rumah tersebut, berpotensi menularkan kebaikan kepada anak lain di rumah yang berbeda. Tetapi temuan dalam ratusan pekerja buruh di pabrik rokok dalam riset ini, memunculkan fenomena yang berbeda. Anak-anak, dalam Pendidikan, tidak tumbuh dengan baik yang salah satu faktornya justru karena orangtua tidak selalu hadir secara fisik dalam pembelajaran atau bebulangan (Madura).
Setiap anak yang lahir, semuanya memiliki potensi untuk cerdas-akademis dan cerdik- kinestetik. Potensi inilah yang perlu diafirmasi oleh orangtua. Tetapi secerdas dan tidak secerdik apapun anak, dalam hal pendidikan agama dan akhlaq, ini menjadi wajib sebagai pondasi pembelajaran untuk menunjang masa depan peradaban. Secerdik dan secerdas apapun anak, jika tidak diimbangi dengan pondasi sebagaimana dimaksudkan, anak akan mengalami kegersangan spiritualitas dan kekeringan etika. Kondisi ini akan memunculkan sikap non affirmatif kepada pihak lain termasuk kepada yang lebih tua, dan meremehkan orang lain.
Sementara, agama mengajarkan banyak hal, tidak saja menyangkut soal cerdik akademis dan cerdas kinestetik. Melainkan agama menjejalkan kepada urusan yang sangat teknis. Misalnya, sekadar menyebut contoh, sampai masuk ke WC pun, agama mengatur bagaimana etikanya. Apalagi, perilaku yang berkaitan dengan sesame manusia dan terlebih yang berkait dengan relasi insaniah ke ilahiah.
Kondisi Anak Kontemporer
Situasi kontemporer tentang anak, dijauhkan dari yang seharusnya didekatkan pada anak. Fakta di lapangan, anak-anak kontemporer sebagian besar tidak lagi mencari musala sebagai sarana atau tempat ibadah. Anak juga tidak lagi mencari famili atau kerabat. Anak juga tidak menjaga waktu dengan baik untuk bermain dan berkegiatan yang lebih serius dari sekedar bermain. Anak-anak saat ini mencari sinyal atau wifi, agar gadget yang dipegangnya tersambung ke jaringan internet.
Rutinitas ini kemudian menjauhkan anak dari sesuatu yang lebih penting dalam relasi sosial dan komunikasi ritual. Di dalam pikirannya, sinyal adalah kebutuhan mendasar. Ini juga yang dirasakan kaum perempuan dalam riset. Kepergian ibu untuk menopang roda ekonomi dirasakan anak karena yang dianggap lebih penting adalah sinyal. Bisa dibayangkan, apabila kebutuhan anak pada sinyal melampaui kebutuhan terhadap yang jauh penting, orangtua, agama, etika, dan kemanusiaan itu sendiri.
Saat kondisi anak bangsa ini disandingkan dengan masa depan peradaban bangsa dari sisi keagamaan dan kemanusiaan, dugaan Sayyed Hussein Nashr akan terjadi, nestapa manusia kontemporer. Bila bangsa masa depan bisa terpotret melalui kondisi anak saat ini, maka anak akan kehilangan sensivitas multidimensi. Sebab, nasionalisme anak pada akhirnya, bukan lagi hubbul wathan, tetapi hubbul-wifi. Teologi anak bisa jadi bukan transendental, melainkan transinyal. Jika ini terjadi, maka wajah republik ini akan terlihat horor, mengerikan; gersang spiritualitas dan miskin humanitas.
Epilog
Narasi tentang anak dan kemanusiaan masa depan adalah realitas-kontekstual yang mengharu-birukan peradaban. Agama, dibutuhkan karena secara faktual, nomen klatur ini paling fundamental dalam kehidupan keluarga. Riset membuktikan, soal keyakinan dan beragama yang ditindaklanjuti dengan perilaku sebagai manifestasi dari amalun bil arkan, menjadi hal yang fundamental tak terbantahkan. Maka, kehadiran agama yang mengatur hingga yang paling teknis ini, dapat mempersatukan keluarga dari semua kemungkinan yang berbeda di fatsun yang lain.
Selain itu, etika dan kebudayaan juga menopang penyanggah kehidupan yang berpijak pada kemanusiaan. Di bawah agama, kemanusiaan sebagai sesuatu yang sangat urgen dalam relasi sosial jika agama menjadi relasi ritual-transendental. Edukasi ini tentu harus melibatkan kaum ibu dan Perempuan yang tidak saja kehadirannya menjadi gua pertapaan anak. Tetapi ibu dan perempuan menjadi penentu baik tidaknya masa depan peradaban anak manusia. Urgensi ibu atau Perempuan ini tidak sedang membeda-bedakan kehadiran laki-laki sebagai ayah di Tengah keluarga. Tetapi perempuan memiliki sensivitas yang tidak dimiliki makhluk lain dalam relasi-ladunni anak-orangtua.
Memperhatikan realitas anak kaitannya dengan masa Pendidikan lalu disandingkan dengan wajah futuristic bangsa, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan para pihak. Yang pertama, pemberdayaan Perempuan sebagai pengampu utama anak. Kedua, reaktivasi-kreatif kepala rumah tangga dalam menunjang kehidupan di Tengah keluarga. Ketiga, kolektivitas pemahaman publik tentang rekayasa penguatan generasi bangsa yang akan menjadi pemilik sah kedaulatan negeri mendatang.
Di luar itu semua, anak tidak boleh dijauhkan dari alamnya, dari lingkungannya, dari para pihak yang seharusnya dekat dan memberikan perhatian. Sakit dan Lelah hati para Perempuan yang bekerja separuh hari di tempat kerja, menjadi salah satu indikasi yang ikut menyebabkan anak mengambil sikap non affirmatif terhadap hal yang urgen dalam kelangsungan hidupnya. Anak juga tidak dijauhkan dari agama dan etika yang menjadi simbol peradaban samawi-ardi dalam waktu yang bersamaan.
Lebih dari itu, negara maupun institusi yang tegak lurus agama-bangsa, dan senyawa kehidupan duniawi-ukhrawi, butuh kohesivitas para pihak supaya lebih mengalirkan energi positif menuju kehidupan yang lebih bermartabat. Kecuali, para pihak ingin agar perempuan lebih terseok yang berefek domino kepada anak. Padahal, jika Perempuan dan anak rapuh, dapat dipastikan, kedaulatan bangsa ini, pada akhirnya, tersimpuh dan tertatih-tatih. Atau inikah yang hendak diraih menuju etanasia peradaban masa depan pendidikan? Apabila kenyataan ini yang terjadi pada akhirnya, mungkin semua ingat kata Bang Haji (Rhoma Irama), maka ini sungguh ter-la-lu. (*)
*Mahasiswa Program Doktor UMM dan Dosen IDIA Prenduan Sumenep