Oleh: MH Said Abdullah
Ketua DPP PDI Perjuangan
Kecuali para petualang politik, yang mengalami sindrom inferioritas karena merasa kurang mendapat dukungan publik, setiap politisi di manapun di dunia berharap pelaksanaan Pemilu berjalan damai.
Pemilu menjadi alternatif terbaik regenerasi dan suksesi kepemimpinan, tanpa mengusik aktivitas dan tatanan kehidupan keseharian masyarakat.
Seluruh politisi yang berpikir jernih akan berusaha menjaga pelaksanaan Pemilu agar tidak menimbulkan berbagai friksi, riak-riak yang berpotensi menimbulkan konflik horizontal antar pendukung.
Kita tentu tak ingin pengalaman buruk suksesi kepemimpinan di negara yang saat ini mengalami konflik -Irak, Suriah, Afghanistan terjadi dalam pelaksanaan Pemilu di negeri ini.
Tak ada sepercikpun bahkan bayangan kepahitan yang menyengsarakan dan menimbulkan petaka sehingga berjatuhan air mata, darah dan nyawa rakyat mewarnai pelaksanaan Pemilu.
Harapan ideal -Pemilu menjadi sarana suksesi penuh kedamaian- itu diyakini akan dapat terwujud jika seluruh pihak berusaha keras mengawal proses Pemilu agar sesuai koridor perundangan-undangan.
Ketaatan dan kesungguhan semua pihak mengawal seluruh proses Pemilu berjalan sesuai perundang-undangan saat ini makin memiliki urgensi dan tuntutan sangat tinggi.
Dinamika sosial, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi kini mewujud menjadi kekuatan luar biasa, yang memonitor ketat sehingga mudah terdeteksi berbagai tindakan yang menyimpang dari aturan permainan sekecil apapun.
Para politisi, terutama yang masih berpikir menggunakan paradigma lama harus mempertimbangkan realitas dinamika sosial yang kini terjadi hampir seluruh pelosok negeri.
Pertama, masyarakat saat ini makin mudah mendapatkan akses informasi dan komunikasi sehingga sekecil apapun tindakan penyalahgunaan kekuasaan misalnya, mudah dan sangat cepat diketahui oleh rakyat seluruh negeri.
Kedua, masyarakat Indonesia saat ini praktis bukan lagi menjadi konsumen berita. Masyarakat telah menjadi bagian sebagai pembuat berita, sehingga sepak terjang oknum-oknum, yang mengotori pelaksanaan Pemilu hanya dalam hitungan detik tersebar ke seluruh negeri bahkan dunia.
Wartawan-wartawan dadakan yang bermodal sederhana, seperangkat ponsel saat ini ada pada setiap tempat.