JAKARTA, Koranmadura.com – Program satu keluarga miskin satu sarjana dari pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD menjadi program yang dianggap paling penting oleh masyarakat.
Itu terlihat dari hasil studi yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) sebagaimana disampaikan dalam rilis yang diterima di Jakarta, Selasa 16 Januari 2024.
Program ini mengalahkan program unggulan pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar yaitu tunjangan ibu hamil yang menempati urutan kedua pilihan responden, dan program makan siang dan susu gratis bagi anak sekolah dari Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Pendiri SMRC Saiful Mujani, dalam penelitiannya meminta responden mengurutkan tiga program paling dibutuhkan yang ditawarkan dari tiga pasangan Capres-Cawapres.
Hasilnya, 48 persen responden menyebutkan program satu keluarga miskin satu sarjana dari Ganjar-Mahfud paling dibutuhkan.
Posisi kedua ditempati program dari Anies-Muhaimin yaitu tunjangan bagi ibu hamil dengan 32 persen responden.
Sementara program Prabo-Gibran yang gencar dikoar-koarkan makan siang dan susu gratis untuk anak sekolah hanya mendapat 20 persen suara responden.
“Per program ini, jika ketiganya diadu, yang unggul di mata pemilih adalah program satu keluarga miskin, satu sarjana,” kata Saiful Mujani.
Hanya saja, mayoritas masyarakat tidak tahu siapa yang “menjual” program-program tersebut.
Untuk program tunjangan ibu hamil, misalnya, hanya 16 persen yang tahu bahwa program itu dari pasangan Anies-Muhaimin dan 84 persen yang tidak tahu.
Dari 16 persen yang tahu program Anies-Muhaimin tersebut, 63 persen menyatakan yakin pasangan itu bisa mewujudkannya jika mereka terpilih menjadi presiden dan wakil presiden, 33 persen tidak yakin, dan 4 persen tidak menjawab atau tidak tahu.
“Walaupun ada 32 persen yang menyatakan program tunjangan ibu hamil itu penting dan dibutuhkan, tapi yang tahu bahwa program itu diusulkan pasangan Anies-Muhaimin hanya 16 persen,” jelas Saiful.
Karena itu Saiful menyatakan program ini tidak akan banyak punya efek. Walaupun banyak yang menyatakan program itu penting, namun yang tahu hanya sedikit.
Menurut Saiful, perlu ada kampanye atau sosialisasi mengenai program tersebut agar memiliki efek elektoral pada pasangan Anies-Muhaimin yang mengusungnya.
“Debat saja tidak cukup. Mungkin perlu iklan yang lebih massif untuk program ini,” tambahnya.
Untuk program makan siang dan susu gratis untuk anak sekolah, hanya 25 persen yang tahu atau pernah mendengar bahwa pasangan Prabowo-Gibran memiliki program unggulan tersebut, selebihnya, 75 persen tidak tahu atau tidak pernah mendengar.
Namun dari yang tahu, sebanyak 73 persen yakin Prabowo-Gibran mampu mewujudkan program tersebut jika mereka terpilih menjadi presiden dan wakil presiden.
Minimnya pengetahuan publik tentang usulan program pasangan capres membuat aspek ini kurang bisa memiliki efek untuk menaikkan suara. Bahkan Saiful menyatakan bahwa efek debat kemungkinan tidak banyak berpengaruh.
“Mau ada debat atau tidak ada debat, pengaruhnya pada elektabilitas pasangan tidak signifikan. Walaupun publik merasa program seperti makan siang gratis itu penting, tapi jika mereka tidak mengetahui siapa yang mengajukan program tersebut, ya tidak banyak pengaruhnya,” ungkap Saiful.
Menjadi lebih problematik karena hanya 20 persen masyarakat yang menganggap program makan siang gratis itu penting. Karena itu, mengharapkan dapat suara besar dari program tersebut akan memiliki kemungkinan yang kecil.
Demikian pula dengan program Ganjar-Mahfud tentang 1 keluarga miskin, 1 sarjana.
Walaupun program ini dibutuhkan oleh sekitar 48 persen warga, tetapi yang mengetahui bahwa pasangan Ganjar-Mahfud mengusulkan program tersebut hanya 17 persen, yang tidak tahun 83 persen.
Dari yang tahu, sebanyak 62 persen menyatakan pasangan Ganjar-Mahfud akan bisa mewujudkannya jika mereka terpilih menjadi presiden dan wakil presiden, 35 persen tidak yakin, dan 3 persen tidak tahu atau tidak jawab.
“Apa yang Anda bisa harapkan dari janji-janji itu kalau masyarakat tidak tahu? Bahwa program 1 keluarga miskin, 1 sarjana sebagai program menarik, memang ya. Tapi siapa yang menawarkan ini? Masyarakat tidak tahu. Oleh karena itu, efek elektoralnya tidak diperoleh dari sini,” kata Saiful.
Saiful menegaskan bahwa debat pada akhirnya hanya menarik bagi kalangan tertentu dan mungkin untuk mereka yang sudah fanatik memilih calon atau pasangan tertentu.
Mereka memilih bukan karena terpengaruh debat, mereka nonton justru karena sudah punya pilihan. Mereka menonton debat karena ingin melihat calon yang didukungnya keren atau tidak dalam debat.
“Karena itu, debat tidak memiliki nilai elektoral,” ungkapnya. (Gema)