Oleh: Miqdad Husein
Pada debat Cawapres Minggu malam (21 Januari) masyarakat Indonesia menyaksikan kelakuan Gibran Rakabuming Raka, Cawapres pasangan nomor 2 yang melabrak etika, kesopanan.
Media sosial penuh sesak kecaman pada kelakuan anak muda, yang sama sekali tidak memiliki etika.
Sebuah gambaran bahwa etika, akhlak berada di atas ilmu memang tetap menjadi pegangan masyarakat. Tak hanya di negeri ini. Secara universalpun kearifan indah itu berlaku.
Sejujurnya, sebenarnya kelakuan Gibran tidak perlu dianggap hal luar biasa, jika mencermati rekam jejak anak sulung Presiden Jokowi itu. Jika ditelusuri lebih jauh, kelakuan ‘songong’ merupakan watak aslinya. Sudah menjadi karakter terlihat dari gesturnya.
Masyarakat Indonesia tentu masih ingat ketika Gibran, sebagai Walikota Solo, secara demonstratif mencopot masker dari wajah Pampamres, dihadapan awak media. Beralasan si Pampamres bernama Heri Misbah memukul supir truk dan dua kernetnya.
Caranya mencopot lho, yang sangat kasar serta sama sekali jauh dari kesantunan. Menarik masker dari belakang, dengan gaya arogan seperti tukang jambret.
Padahal, bisa saja Gibran meminta baik-baik kepada Heri Misbah. Apalagi yang bersangkutan sudah bersedia meminta maaf dihadapan awak media.
Berbagai kelakuan jauh dari etika tampaknya memang menjadi bagian lingkungan Gibran sebagai Cawapres.
Lihat saja, Prabowo Subianto sang Capres, yang sangat akrab dengan berbagai kalimat kasar.
Ndasmu, goblok, bacot dan berbagai kalimat kasar lainnya, demikian mudah meluncur bahkan di tengah masyarakat yang sangat mungkin banyak anak-anak.