Atau, lihatlah kelakuan para Menteri yang mendukung pasangan nomor 2. Menteri Zulkifli Hasan, Menteri Airlangga Hartarto, sama sekali tidak memiliki sikap sportif saat membagikan Bantuan Sosial (Bansos).
Keduanya, melakukan manipulasi informasi menyebut Bansos seakan dari Jokowi dan kebaikan Jokowi.
Yang sedikit serius tentu saja pemanfaatan produk pelanggaran etika Mahkamah Konstitusi (MK) oleh Gibran Rakabuming.
Perilaku itu jelas melabrak kelaziman kehidupan kemasyarakatan dalam dunia kepemimpinan. Bayangkan, hukum yang sudah bermasalah dijadikan landasan memuaskan syahwat berkuasa. Jelas, ini pelanggaran etika sangat luar biasa.
Sekedar perbandingan, di Jepang jika seorang pejabat terindikasi melanggar etika, langsung mengundurkan diri.
Gibran dan Tim Pasangan nomor 2, justru memanfaatkan produk pelanggaran etika sebagai jembatan memuaskan syahwat berkuasa. Kontras sekali, bukan.
Masih ada lagi deretan lingkaran Gibran yang sama sekali mengabaikan etika.
Mohon maaf, apa pantas seorang yang dibesarkan PDI Perjuangan, dari sejak terpilih sebagai Walikota dua kali, Gubernur sekali dan jabatan Presiden dua kali berkampanye partai lain? Adakah contoh dalam kehidupan politik lainnya. Apalagi dilakukan seorang pucuk pimpinan negeri ini.
Jika bukan syahwat kekuasaan berlebihan apa iya ada seorang Presiden yang masih menjabat mendukung anaknya untuk menjadi Cawapres.
Rasanya, hampir tak ada di dunia ini, perilaku yang sangat luar biasa melanggar etika itu.
Jadi, masyarakat seharusnya tak usah terkejut jika Gibran, pada acara debat kemarin bertingkah melabrak etika dan kesantunan.
Itulah wajah asli Gibran, yang selama ini ditutup-tutupi dengan cara menunduk-nunduk.
Gibran telah membuka topeng dan memperlihatkan watak aslinya.
Tuhan mboten sare. Tuhan yang Maha Kuasa telah memperlihatkan bagaimana sebenarnya sosok, yang diagung-agung sebagian masyarakat, dalam acara debat Cawapres.
Dengan lingkaran, yang penuh pelanggaran etika baik yang normatif maupun yang hidup sebagai budaya di tengah masyarakat, begitulah Gibran aslinya.
Apalagi ada ungkapan arif bahwa buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya.
Alamak.