Maka kita bisa melihat bagaimana sombong dan angkuhnya Jokowi, ketika dari mobilnya ia melempar-lemparkan kaos, buku dll di hadapan rakyatnya yang berdiri di tepi jalan.
Ironisnya, rakyat itu berlari-larian rebutan, sampai terjatuh untuk mengambil kaos atau barang-barang yang dilempar Sang Machiavelis dari mobilnya itu.
Apakah derajat rakyat serendah itu dalam pandangan Jokowi, hingga rakyat harus diperlakukan secara hina?.
Akal bulus dan keangkuhan Jokowi juga bisa kita lihat saat menggelembungkan anggaran untuk Bansos 2023 dan 2024 yang melebihi anggaran Bansos ketika Indonesia dihantam badai Covid-19.
Lalu Bansos yang berupa beras, minyak goreng dll nya itu dibagi-bagikan sendiri tanpa melibatkan Mensos Tri Rismaharini.
Dan jikapun melibatkan kementerian lainnya, yang dilibatkan justru menteri-menteri yang sekubu dengan Prabowo-Gibran, yakni Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan dan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.
Hasil dari semua tingkah laku norak, jorok dan brutal Machiaveli Van Java itu kemudian adalah hasil Pilpres dapat diketahui sebelum waktunya dan ketika Pilpres tiba hasil perolehan suara Paslon Capres yang didukungnya malah “menggila”, naik drastis yang membuat team sukses kemenangannya sendiri terheran-heran nyaris tak percaya.
Orkestrasi hasil perhitungan cepat (quick count) lembaga-lembaga survei papan atas kemudian menjadi seirama, menggiring dan memaksa tim sukses pemenangan Paslon 01 dan 03 untuk mau menerimanya.
Sedangkan KPU dan BAWASLU sendiri menyatakan penghitungan suara hasil PILPRES masih banyak kekeliruan.
Tak cukup sampai disitu, Prabowo-Gibran juga langsung secepat kilat melakukan pesta pernyataan kemenangan, dan para tokoh-tokoh politik nasional dikondisikan untuk memberikan ucapan selamat atas kemenangannya. Gila…