JOMBANG, koranmadura.com – Sabtu, 23 Maret 2024, empat kru Koran Madura – Kaisar TV berkesempatan mengikuti acara Buka Puasa Bersama Dr. (HC). Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, istri alm. Presiden ke-4 RI, KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Dari Kabupaten Sumenep, kami berangkat sekitar pukul 04.00 WIB atau selepas makan sahur. Langsung menuju Jombang. Perjalanan cukup lancar karena arus lalu lintas belum begitu padat.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 260 KM, versi Google Map, selama lima jam-an, akhirnya kami sampai di Kabupaten Jombang.
Karena masih pukul 09.00 WIB kurang, kami tak langsung ke lokasi acara di Pendopo Pasar Legi. Tapi lebih dulu berkunjung ke Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari (MINHA).
Bagian selama kami di MINHA akan ditulis tersendiri. Tapi intinya, di sana kami keliling satu jam lebih, sebelum akhirnya bertolak menuju lokasi buka bersama.
Setibanya di tempat acara, kami berniat untuk beristirahat sejenak. Namun karena melihat panitia menyiapkan segala sesuatunya, akhirnya kami ikut berbaur dengan mereka.
Sekitar pukul 12 siang, kami pun diminta untuk beristirahat oleh panitia. Waktu tersebut kami manfaatkan untuk beristirahat sekaligus menjalankan kewajiban seorang hamba pada Tuhannya.
Pukul 16.00 WIB, acara akan segera dimulai. Undangan satu per satu datang memadati lokasi acara. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pedagang kaki lima (PKL), kaum difabel, komunitas pesantren, hingga masyarakat lintas agama.
Nyai Shinta Nuriyah sendiri tiba di lokasi sekitar pukul 17.00 WIB. Dengan pengawalan Paspampres, ia didampingi oleh salah satu putrinya, Neng Inayah.
Sebelum menyampaikan tausiyah, penerima gelar doktor kehormatan atau Honoris Causa (HC) bidang Sosiologi Agama dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta itu memberikan santunan secara simbolis kepada anak-anak yatim.
Dalam tausiyahnya, Nyai Shinta menuturkan, bahwa kegiatan sahur dan buka bersama rutin ia lakukan setiap bulan Ramadan selama bertahun-tahun.
“Yang saya lakukan mengajak masyarakat, terutama kaum duafa, kaum marginal, difabel dan lain-lain, sahur bersama agar bisa melaksanakan ibadah puasa,” ujarnya.
Selebihnya, dalam kesempatan tersebut, ia mengajak seluruh yang hadir dan masyarakat secara umum agar selalu menjaga persatuan dan kesatuan sesama bangsa Indonesia tanpa melihat latar belakang suku, agama, ras, antargolongan.
“Karena pada dasarnya, kita adalah satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Karenanya, kita harus bisa saling menghormati, saling menghargai dan gotong royong satu sama yang lain,” ajaknya, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Satu Nusa Satu Bangsa. TIM