SUMENEP, koranmadura.com – Di tengah meningkatnya krisis sampah yang semakin mengkhawatirkan, sebuah langkah sederhana namun berdampak besar dilakukan oleh UPT Jatian Pondok Pesantren Daerah Lubangsa, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, Jawa Timur.
Meski tanpa mengandalkan teknologi canggih, UPT Jatian PPA Lubangsa ini menunjukkan komitmennya dalam memerangi krisis sampah yang semakin memburuk dengan mengolahnya secara bijak.
Proses pengolahan sampah di UPT Jatian PPA Lubangsa diawali dengan tahap pemilahan. Berbagai jenis sampah yang telah dikumpulkan di laboratorium pengolahan sampah UPT Jatian dipilah secara cermat.
Plastik kertas dan kertas dimasukkan ke bank sampah untuk selanjutnya dipasok ke pengepul. Sementara itu, sampah plastik daun, baik yang termoplastik maupun multilayer, diolah menjadi paving dan ecobrick.
Kemudian, khususnya sampah organik, oleh para santri yang telah terlatih sebelumnya diolah menjadi kompos atau pupuk cair. Sedangkan sampah residu yang sulit terurai tidak dilepas begitu saja. UPT Jatian menggunakan solusi kreatif dengan memusnahkannya secara efisien.
UPT Jatian sendiri merupakan suatu unit khusus pelaksana teknis pengelolaan sampah di lingkungan PPA Lubangsa yang didirikan pada Maret 2023 lalu.
“UPT Jatian ini merupakan pusat pengelolaan sampah pada sisi hilir di lingkungan PPA Lubangsa,” kata Ketua Pengurus PPA Lubangsa, Moh. Farid, Sabtu, 2 Maret 2024.
Menurutnya, sampai sekarang, sampah masih menjadi permasalahan tak berkesudahan di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Bahkan, negara-negara maju yang memiliki sistem pengelolaan sampah paling mutakhir sekalipun, belum mampu menyelesaikan persoalan sampahnya sendiri dan harus mengirimkan sampahnya ke negara-negara berkembang.
“Hal ini bisa dilihat dari kasus sampah impor di Jawa Timur yang salah satu penyumbang terbesarnya berasal dari negara-negara maju di Eropa,” ujarnya.
Untuk itu, UPT Jatian PPA Lubangsa mengajak pesantren-pesantren di Madura bersama-sama memerangi krisis sampah dengan menggelar Musyawarah Ekopesantren se-Madura dengan mengusung tema ‘Manajemen Pengelolaan Sampah di Pesantren’, Sabtu, 2 Maret 2024.
“Musyawarah ini dimaksudkan untuk mengajak kalangan pesantren agar memiliki komitmen yang sama di dalam mengatasi permasalahan sampah yang telah menjadi ancaman serius bagi lingkungan,” ujar Farid.
Hadir sebagai pembicara ahli dalam kegiatan ini Wahyudi Anggoro Hadi, seorang lurah teladan asal Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta, yang telah lama menjadi mentor Lubangsa dan memiliki reputasi nasional dalam penanganan sampah.
Selain itu, pembicara lainnya adalah K. Muhammad Musthafa, pengasuh Ponpes Annuqayah Karang Jati, yang juga memiliki segudang pengalaman dalam menginisiasi penanganan sampah di lingkungan masyarakat.
Usai mengikuti musyawarah, para peserta juga mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi UPT Jatian PPA Lubangsa guna melihat langsung proses pengelolaan sampah di sana. FATHOL ALIF