PAMEKASAN, koranmadura.com – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, mengungkapkan bahwa kenaikan harga beras telah terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama dan dipengaruhi oleh beberapa faktor utama.
Menurut Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Pamekasan, Sitti Solehah, faktor pertama adalah cuaca panas dan musim kemarau yang berlangsung cukup lama, menyebabkan produksi beras menjadi terganggu. Selain itu, penutupan impor beras oleh beberapa negara mitra dagang, seperti Thailand, India, Vietnam, dan Amerika Serikat juga berdampak terhadap kenaikan harga.
“Sementara itu, kenaikan harga BBM juga turut berperan dalam kenaikan harga beras. Selain itu, adanya program bantuan sosial (bansos) menjelang Pemilu juga ikut memberikan tekanan terhadap pasokan beras,” ungkap Sitti Solehah.
Meskipun demikian, Sitti Solehah optimistis bahwa stok beras untuk bulan Ramadan akan mencukupi, berdasarkan koordinasi dengan Badan Urusan Logistik (Bulog).
“Iklim musim panen yang sebentar lagi akan datang, diprediksi akan memberikan efek stabilisasi harga beras. Kami berharap harga beras akan turun kembali, terutama menjelang musim panen raya di bulan Maret dan April,” tambahnya.
Sekadar diketahui, terdapat kenaikan harga pada dua jenis beras, yaitu beras medium dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) seharusnya Rp10.900 per kilogram, namun di pasar mencapai sekitar Rp12 ribu per kilogram. Sedangkan untuk beras premium, HET seharusnya Rp13.900 per kilogram, namun di pasar berkisar antara Rp14 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram. (SUDUR/DIK)