JOMBANG, koranmadura.com – Sabtu, 23 Maret 2024, sekitar pukul 09.00 WIB kami berempat, Kru Koran Madura – Kaisar TV, tiba di Kabupaten Jombang, setelah menempuh perjalanan sekitar 5 jam dari Sumenep, kabupaten paling timur Pulau Madura.
Tujuan utama kami ke Jombang untuk liputan acara Buka Bersama Dr. (HC). Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, istri Alm Presiden Ke-4 RI, KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, dengan masyarakat lintas kalangan di Pendopo Pasar Legi.
Karena waktu buka puasa masih cukup lama, kami tidak langsung ke lokasi. Tapi lebih dulu mengunjungi Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari (MINHA) yang baru dibuka layanannya pada 2022 lalu.
Museum yang pengelolaannya berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia ini tampak begitu megah dan cukup luas.
Saat kami tiba, pengunjung tak begitu ramai. Kami disambut dengan ramah oleh Asisten Kurator MINHA, Devan Firmansyah. Seperti biasa, tiap pengunjung diminta untuk mengisi daftar kunjungan.
Sebelum keliling museum, Devan mengajak kami menyaksikan lebih dulu video singkat yang menjelaskan tentang profil singkat MINHA.
Devan menjelaskan, museum ini yang menggagas atau mengonsep yaitu KH. Sholahuddin Wahid atau Gus Sholah, saudara (adik) Alm Gus Dur tahun 2009 silam.
Menurutnya, MINHA dibangun di Jombang karena Gus Dur dimakamkan di sana, dan pada perkembangannya banyak peziarah datang.
“Nah, karena selalu ramai, bagaimana caranya pengunjung yang menunggu jam kunjungan di makam, itu mendapatkan tempat yang mereka bisa menambah wawasan. Jadi dibangunlah meseum ini. Jadi wisata religinya dapat, wisata edukasinya dapat,” tuturnya.
MINHA sendiri mulai dibangun pada tahun 2014 lalu oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang saat ini menjadi Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi.
Museum ini diresmikan langsung oleh Presiden RI Joko Widodo atau Jokowi pada tahun 18 Desember 2018, dan baru membuka layanan pada tahun 2022, setelah pandemi Covid-19.
Usai menonton video, kami lalu diajak mengunjungi ruangan pertama di lantai I. Ruangan ini berisi tentang sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara, mulai dari wilayah barat di Sumatera hingga wilayah timur di Papua. Mulai dari abad VIII hingga XIX.
Dari ruang pamer museum pertama, kami lalu pindah ke ruang pamer museum kedua. Namanya Ruangan KH. Hasyim Asy’ari. Di ruangan ini, ada banyak koleksi yang berkait-erat dengan Hadaratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari, salah satunya ialah jubah asli pendiri Nahdlatul Ulama itu.
“Jubah asli Kiai Hasyim Asy’ari ini ditemukan pada tahun 1977. Itu ditemukan di Kediri, di dekat Pondok Pesantren Kapurejo. Kami dapatkan dari abdi dhalem-nya Nyai Masruroh, istri ketiga Kiai Hasyim Asy’ari,” ujar Devan.
Selanjutnya, kami pun beranjak ke ruang pamer ketiga. Masih di lantai I. Ruangan ini bernama Ruangan Gus Dur. Isinya banyak koleksi hal-hal atau benda yang berkaitan dengan Gus Dur sebagai sosok yang dikenal konsisten menjaga nilai Islam yang menghormati keberagaman.
Setelah “khatam” keliling di lantai I, kami dibawa naik ke lantai II. Secara umum, ruangan di lantai ini berisi tentang sejarah perjuangan umat Islam melawan penjajahan. Mulai perjuangan fisik dengan perang sampai pendirian organisasi.
“Nah, organisasi itu mulai dari NU, Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad dan ormas lainnya yang punya peran dalam pendiri NKRI ini,” tambah pria asal Malang itu.
Lantai III MINHA sekarang belum dioperasikan. Sehingga kami cukup berkeliling hanya sampai di lantai II. Menurut Devan, untuk di lantai III, tema besarnya nanti adalah kondisi umat Islam pada masa kemerdekaan dan setelah kemerdekaan.
“Sehingga nanti bertahap, mulai masa awal Islam masuk ke Nusantara, di lantai I. Terus masa perjuangan umat Islam sebelum kemerdekaan, di lantai II, dan Islam pada masa kemerdekaan dan setelah kemerdekaan di lantai III,” tambahnya.
Sejak dibuka, MINHA kini menjadi salah satu museum paling ramai dikunjungi. Per bulan bisa sampai 10 ribu. “Karena kalau akhir pekan, bisa sampai 1.500 pengunjung dalam sehari,” tutupnya. (TIM)