SAMPANG, koranmadura.com – Setelah terjadi banjir di beberapa titik Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, potensi serangan penyakit akibat bakteri leptospira sp yang tersebar melalui kencing tikus mulai dipantau dengan ketat, terutama bagi masyarakat dan petugas yang aktif terlibat selama dan setelah bencana banjir.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang, Candra Romadhani Amin, melalui Kasi Kedaruratan dan Logistik (KL) Mohammad Hozin, mengatakan bahwa pasca banjir, sekitar 54 petugas BPBD telah menjalani pemeriksaan medis untuk memastikan kesehatan mereka.
“Pemeriksaan dilakukan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan melalui Puskesmas Kamoning. Hasilnya, alhamdulillah, semuanya dalam kondisi sehat tanpa gejala leptospirosis. Pemeriksaan hanya dilakukan sekali,” ungkapnya, Sabtu, 23 Maret 2024.
Kepala Puskesmas Kamoning, Intan Retnosari, menegaskan bahwa pemeriksaan kesehatan terhadap petugas BPBD sangat penting mengingat intensitas kerja mereka yang tinggi selama bencana banjir, ditambah dengan potensi serangan berbagai penyakit seperti Leptospirosis.
“Hingga saat ini, belum ada gejala Leptospirosis yang ditemukan. Kami juga memberikan suplemen vitamin kepada seluruh petugas,” tambahnya.
Leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri leptospira sp. yang masuk ke tubuh melalui kulit, luka, selaput mata, hidung, atau mulut dari lingkungan yang terkontaminasi kencing tikus yang terinfeksi bakteri leptospira.
“Pemantauan dilakukan pada lingkungan terkontaminasi seperti banjir, genangan air, tempat sampah, persawahan, perkebunan, sungai, sumber air, dan sebagainya,” jelasnya.
Selama pemeriksaan, belum ada gejala yang mengarah pada leptospirosis. Namun, empat petugas mengalami hipertensi dan satu mengalami asma selama bencana banjir. Pihak kesehatan merekomendasikan pemeriksaan lanjutan di Puskesmas Kamoning.
“Keluhan umum petugas adalah kelelahan dan nyeri otot. Kami menyarankan untuk istirahat yang cukup dan hindari begadang,” tegasnya. (MUHLIS/DIK)