Spiritualitas dan kepedulian sosial ibarat dua sisi uang logam yang tak terpisahkan.
Melalui ibadah puasa seakan Allah mengingatkan secara tajam rasakan lapar dan dahaga saudaramu, yang papa dan nestapa.
Resapi betapa pahit tak berdaya ketika lapar dan haus menjadi bagian kesehariaan mereka yang kurang beruntung.
Simulasi rasa lapar dan haus melalui pelaksanaan puasa itu, ummat Islam yang berkecukupan diingatkan, disegarkan nilai kemanusiaannya agar peduli kepada mereka yang kurang beruntung dalam mengarungi kehidupan.
Di sinilah mengapa sangat penting pada bulan puasa ini merangkai lebih integral kesalehan spiritual dan sosial. Kegairahan beribadah ubudiyah di bulan suci Ramadan dilanjutkan aktivitas sosial sebagai wujud riil pelaksanaan nilai-nilai subtansi Ramadhan.
Ramadhan tahun ini, berada dalam kondisi sosial sangat khas pertama karena baru saja masyarakat Indonesia melaksanakan Pemilu. Selalu tersisa kegelisahan dan kekecewaan yang membuat hati gundah gulana.
Melalui puasa, sebagai ibadah spiritual, diharapkan berbagai kegelisahan mendapat penyegaran rohani, sehingga bangkit kembali kekuatan menghadapi berbagai tantangan realitas sosial.
Dalam konteks sosial, sebagaimana diketahui ada kondisi sosial yang terganggu belakangan ini, terutama ketika berbagai kebutuhan pokok merangkak naik harganya.
Menjadi kewajiban pemerintah untuk berusaha mengatasi persoalan itu. Namun, secara personal, menjadi kewajiban kita semua untuk saling peduli pada sesama, kepada mereka yang kebetulan mendapat musibah kesulitan memenuhi kebutuhan keseharian.
Semangat ramadan terintegrasi, yang tidak memisahkan nilai ruhani dan sosial pada tahun ini seharusnya lebih optimal karena situasi dan kondisi sosial, yang makin mengharap kepedulian kita semua.
Syahrul mubarak, marhaban Ramadhan, marilah membersihkan nurani, pertajam pandangan, kepekaan sosial, dan lebih bersemangat untuk peduli kepada sesama.