SUMENEP, koranmadura.com – Sejak Januari 2024, sebanyak 34 anak di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur tercatat menderita Tuberkulosis (TBC). Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) setempat mengaku sudah melakukan langkah-langkah agar tak semakin bertambah.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes P2KB Sumenep, Achmad Syamsuri, mengatakan bahwa ketika di sebuah keluarga terdapat penderita TBC, pihaknya langsung melakukan pemeriksaan terhadap semua orang yang berada satu rumah sebagai upaya pencegahan.
Dari hasil pemeriksaan itu, jika semuanya ternyata negatif maka pihaknya memberikan terapi pencegahan Tuberkulosis (TPT) dengan dua metode. Pertama ialah dengan memberikan satu jenis obat tertentu selama tiga hari. Metode kedua, juga memberikan dua obat tertentu selama tiga minggu.
“Itu fungsinya agar mereka yang berkumpul dalam satu keluarga tidak sampai terpapar atau tertular bakteri Tuberkulosis yang ada di salah satu penderita di rumah itu,” kata dia.
Langkah pelayanan seperti itu, sambung mantan Kepala Puskesmas Pandian ini, dilakukan di setiap Puskesmas yang menangani kasus TBC.
Sekadar diketahui, berdasarkan data Dinkes P2KB Sumenep, sebanyak 34 anak penderita TBC sejak Januari 2024 itu tersebar di 14 wilayah Puskesmas dan dua rumah sakit di kabupaten paling timur Pulau Madura.
Syamsuri menjelaskan, untuk kasus TBC, baik pada anak atau dewasa, tidak memerlukan rawat inap. Kecuali yang bersangkutan memiliki penyakit penyerta atau komorbiditas.
“Kalau ada penyakit penyerta, baru kita rawat. Selama mampu, kita rawat di Puskesmas. Kalau tidak, kita rujuk ke fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut (FKRTL),” tambahnya. FATHOL ALIF/BETH