SAMPANG, koranmadura.com – Pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, dinilai belum optimal. Dalam rangka meningkatkan pengelolaan SDA, DPD Lira Sampang menggelar sarasehan bertema “Keberlanjutan Pengelolaan Sumber Daya Alam: Tantangan dan Solusi” pada Rabu malam, 17 Juli 2024.
Diskusi yang dihadiri oleh KH Muhammad Bin Muafi Zaini, anggota DPRD Provinsi Jawa Timur yang akrab disapa Ra Mamak, dan Subaidi, pegiat lingkungan dari Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Kabupaten Sampang, membahas pentingnya pengelolaan SDA yang lebih baik.
Subaidi menyatakan bahwa pengelolaan SDA tidak bisa dipisahkan dari potensi ancaman bencana. Oleh karena itu, semua pihak perlu aktif dalam menjaga alam untuk mengurangi dampak negatif yang mungkin timbul.
“Kami dari Forum PRB tidak bisa bergerak sendiri tanpa melibatkan unsur pentahelix. Kesadaran harus muncul dari kita sendiri. Kami telah melakukan berbagai kegiatan mitigasi seperti reboisasi dan pengelolaan sampah,” jelas Subaidi.
KH Muhammad Bin Muafi Zaini menyoroti potensi SDA di Madura yang sangat melimpah, terutama di sektor minyak dan gas (migas). Namun, produksi garam dan tembakau juga memiliki potensi besar untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.
“Tata kelola perniagaan harus dimaksimalkan. Pengelolaan SDA harus menghasilkan output yang bermanfaat dan mudah dilakukan,” ujarnya.
Ra Mamak, yang juga pengasuh pondok pesantren di Prajjan Camplong Sampang, menambahkan bahwa tataniaga garam dan tembakau harus dikelola dengan baik untuk memberikan nilai tambah kepada petani. Produksi SDA seharusnya dilakukan di daerah penghasil bahan baku.
“Saat ini, bahan baku garam dan tembakau diproduksi di Sampang, sementara produk jadinya diproduksi di luar Sampang. Regulasi yang rumit dan banyak tahapannya menjadi kendala. Investor juga perlu dipermudah dan dijamin keamanannya,” tegasnya.
Bupati DPD Lira Sampang, Mahrus Alie, mengatakan bahwa potensi SDA di Kabupaten Sampang sangat melimpah, mulai dari migas, garam, hingga tembakau. Namun, pengelolaan SDA terbarukan seperti garam dan tembakau belum dimaksimalkan.
“Sudah saatnya Kabupaten Sampang fokus pada SDA terbarukan seperti garam dan tembakau untuk memberikan nilai tambah bagi petani. Investor pabrikan di Sampang akan mengangkat nilai tambah SDA,” katanya pada Kamis, 18 Juli 2024.
Mahrus Alie juga berharap Pemkab turut andil dalam tata kelola pertanian dan petambak agar masyarakat tidak berjuang sendiri. Regulasi yang rumit membuat petani sulit bersaing di pasar bebas. Intervensi pemerintah daerah diperlukan untuk menciptakan petani yang makmur dan memiliki nilai tambah.
Diskusi yang digelar di salah satu hotel di Sampang Kota ini diikuti oleh beberapa aktivis, mulai dari aktivis lingkungan, asosiasi petani tembakau dan garam, hingga pegiat di Kabupaten Sampang. (MUHLIS/DIK)