Oleh: Edi Danggur
Kaisar Nero memerintah Romawi tahun 54-68 Masehi. Ia memang hanya memerintah selama 14 tahun. Tetapi ia menjadi sangat terkenal karena praktek tirani dan kekejamannya.
Tidak ada peluang bagi lawan politik untuk mengkritik dia. Sebab, dengan kekuasaannya itu ia bisa menyakiti dan mematikan lawan-lawannya dengan sangat kejam.
Pepatah yang sering ia ucapkan: Ad nocendum potens sumus. Aku mempunyai kekuatan untuk menyakiti.
Bukan sekedar menyakiti. Tetapi ia tega mengeksekusi setiap orang yang bertentangan dengan kehendaknya.
Ini yang sungguh kejam! Ibunya sendiri pun ia eksekusi. Ibunya saja dengan tega ia bunuh, apalagi orang lain di luar dirinya.
Seneca, atau lengkapnya Lucius Annaeus Seneca (4-65 Masehi) seorang filsuf, negarawan dan dramawan Romawi adalah salah satu korban kekejamannya.
Seneca sebenarnya adalah orang yang dibuang ke Corsica oleh Klaudius, kaisar sebelumnya. Tetapi Agrippina, istri Kaisar Klaudius yang baru, memanggil Seneca pulang ke Roma.
Di Roma, Seneca diberi tugas khusus untuk menjadi tutor bagi Nero kecil, yang kelak akan menjadi Kaisar Nero.
Jasa Seneca tidak dipedulikan oleh Kaisar Nero. Bahkan Seneca dituduh bersekongkol dalam rencana mengkudeta Nero.
Maka, Seneca diberi pilihan oleh Nero untuk mati dengan dua cara: dimatikan dengan kejam di tangan Nero atau mati dengan cara bunuh diri.
Seneca sudah melihat sendiri cara matinya lawan-lawan politik Nero yang dibunuh dengan kejam. Maka Seneca lebih memilih mati dengan cara bunuh diri.
Nero tidak memakai proses hukum untuk membuktikan dugaan pelanggaran hukum bagi lawan-lawan politiknya.
Sebab, bagi Nero: hukum itu hanya ada dan berguna bagi masyarakat yang taat hukum saja. Baginya, hukum harus bisa dipelintir sesuai dengan kehendaknya.
Tetapi, hukum tabur tuai itu, riil, benar adanya. Militer yang selalu dia pakai untuk membunuh lawan-lawannya, justru berbalik mengkudetanya pada tahun 68.
Nero pun memilih bunuh diri dengan cara menyuruh budak-budaknya membunuhnya. Sebab, ternyata ia sangat takut juga mati dengan kejam di tangan lawan-lawan politiknya.
Kejayaan yang dibangun di atas praktek kekejaman Kaisar Nero selalu menjadi inspirasi bagi pemimpin di dunia.
Memegang kekuasaan puncak di sebuah negara itu ibarat menunggang harimau. Menyenangkan tetapi sekaligus juga menakutkan.
Menyenangkan sebab semua orang akan minggir ketika harimau lewat. Ada tepuk tangan memuja sang pemimpin. Harimau pun bisa disuruh menerkam, merobek dan mencincang siapa pun yang tidak bersedia minggir.
Menakutkan manakala kekuasaanmu berakhir, maka karma pun datang. Kekejaman akan segera datang terhadap dirimu. Bahkan harimau tunggangan pun siap menerkam balik.
Berkhayal tetap berada di atas punggung harimau, sampai harimau mati. Tidak mungkin. Harimau itu, rakyatmu, berusia panjang, mati satu, tumbuh seribu.
Tetapi, kekuasaanmu pasti berakhir, karena ada batas waktunya. Siap menghadapi karmamu. Tabur kekejaman akan menuai kekejaman pula untuk dirimu. Ini hanya soal waktu!
Penulis adalah Seorang Praktisi Hukum, Tinggal di Jakarta