BANGKALAN, koranmadura.com – Kehadiran PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) telah membawa dampak positif bagi perekonomian Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Bangkalan, Madura, Jawa Timur. Melalui pengembangan wisata Taman Pendidikan Mangrove, desa ini kini menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di pesisir pantai utara.
Sebelum PHE WMO hadir di Desa Labuhan pada tahun 2013, kondisi ekonomi desa ini terbilang sulit, dan lingkungan di pesisir pantai tampak kumuh. Namun, dengan program Pengembangan Masyarakat (PPM) dari PHE WMO, Desa Labuhan mulai berubah menjadi desa yang lebih bersih dan makmur. Wisata Taman Pendidikan Mangrove yang dikembangkan menjadi motor penggerak ekonomi lokal, sekaligus memperbaiki lingkungan pesisir.
Muhammad Sahril, tokoh di balik kesuksesan ini, bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Payung Kuning, telah mengubah Desa Labuhan menjadi destinasi wisata yang fokus pada konservasi mangrove dan transplantasi terumbu karang. Upaya ini dilakukan untuk memulihkan terumbu karang yang rusak akibat penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan.
“Kontribusi PHE WMO di Desa Labuhan sangat besar. Melalui wisata mangrove ini, kami berhasil menciptakan lapangan pekerjaan baru, seperti berjualan dan jasa katering. Dulu, pantai Labuhan ini kumuh, tapi sekarang sudah indah dan banyak dikunjungi wisatawan dari luar Madura,” ujar Sahril, Jumat, 16 Agustus 2024.
Sahril juga menjelaskan, ada beberapa paket wisata yang ditawarkan di Taman Pendidikan Mangrove. Mulai dari paket biasa untuk kunjungan sehari, paket umum dengan fasilitas menginap, hingga paket khusus bagi mahasiswa yang melakukan penelitian.
“Paket khusus ini biasanya digunakan oleh mahasiswa yang ingin melakukan penelitian untuk tugas akhir. Kami hanya mengenakan biaya parkir dan penginapan jika mereka ingin bermalam di lokasi wisata,” tambah Sahril.

Wisata Taman Pendidikan Mangrove ini tidak hanya menawarkan pemandangan indah seperti di Bali, tetapi juga menjadi objek penelitian akademis. Banyak mahasiswa dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM) dan Universitas Airlangga (Unair) melakukan penelitian di sini, baik tentang mangrove, pemasaran wisata, maupun usaha berbasis komunitas.
Keberhasilan program ini juga mendapat apresiasi dari Manager Comrel & CID Regional 4 PHE WMO, Rahmat Drajat, yang menilai bahwa dukungan masyarakat lokal adalah kunci kesuksesan program pemberdayaan ini.
“Program yang baik membutuhkan dukungan dari masyarakat penerima manfaat. Di Labuhan, program yang baik bertemu dengan masyarakat yang suportif, dan merekalah aktor utama keberhasilan ini,” ujar Rahmat.
Selain Taman Pendidikan Mangrove, PHE WMO juga mengembangkan beberapa destinasi wisata lainnya di pesisir utara Bangkalan, seperti Wisata Pantai Pasir Putih Tlangoh dan Wisata Laut Labuhan. Program-program ini menjadi bagian dari strategi PHE WMO untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan pariwisata, dengan tujuan mewujudkan konsep One Belt One Road (OBOR) pariwisata lokal. (MAHMUD/DIK)