SUMENEP, koranmadura.com – Lebih seratus ribu ton garam rakyat hingga sekarang masih ngendon di gudang PT. Garam alias tak terjual. Padahal sekarang para petambak sudah mulai panen.
Sekretaris PT. Garam, Hario Junianto menuturkan, saat ini stok garam rakyat hasil serapan musim lalu masih tersisa sekitar 120 ribu ton. Kemudian ditambah sisa produksi PT. Garam sendiri sekitar 70 ribu ton.
“Musim ini PT. Garam juga sudah mulai produksi. Hasilnya sekitar 30 ribu ton. Sehingga sampai sekarang garam yang masih tersimpan, baik garam rakyat maupun hasil produksi sendiri sekitar 220 ribu ton,” katanya, Rabu, 24 Juli 2019.
Salah satu pemicu ngendonnya stok garam di PT. Garam ialah harga pasar sekarang belum memungkinkan bagi Badan Usaha Milik Negara itu menjual garam. Khususnya garam rakyat.
Sebab, sambung dia, pada saat melakukan penyerapan garam rakyat musim lalu, harga garam di kisaran Rp 1.200 hingga 1.300 per kilo. Sementara sekarang harga garam anjlok hingga di bawah Rp 700 ribu per ton.
Sementara untuk menjual garam di bawah harga pembelian atau menjual rugi, menurut dia pihaknya tidak bisa serta merta. Tapi harus menunggu ketetapan dari pemerintah. “Jadi itu bukan hanya kewenangan PT. Garam,” jelasnya.
Akibat masih banyak sisa garam itu, hingga sekarang gudang PT. Garam penuh. Sehingga sampai sekarang perusahaan tersebut belum melakukan penyerapan garam rakyat, khususnya di Kabupaten Sumenep. (FATHOL ALIF/SOE/VEM)