SAMPANG, koranmadura.com – Ada pemandangan yang unik di salah satu dusun di Desa Muktesareh, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Tinur. Namanya Kampung Tenjui. Di Kampung tersebut, setiap rumah warga berdiri musala yang terbuat dari kayu.
Naim (50), warga Kampung Tenjui mengaku keberadaan bangunan yang dikenal ‘Ghenduk’ di Tenjui ini bukan hanya dijadikan tempat salat atau mengaji, melainkan bisa dijadikan sebagai tempat menjamu tamu, baik warga Kampung Tenjui sendiri atau warga luar. Menurut dia, keberadaan ghenduk sudah lazim berada di Tenjui. Sebab pembangunan musala kayu ini bersamaan saat membangun rumahnya.
“Kebanyakan warga kampung di sini memiliki Ghenduk atau langgar. Selain untuk ngaji, salat dan acara keagamaan lainnya, juga dijadikan tempat menemui dan menjamu tamu,” ujarnya, Senin, 28 Oktober 2019.
Menurut dia, keunikan Ghenduk karena hanya berukuran 2 sampai 3 meter dengan ketinggian lantai ke atap setinggi 1,5 meter. Selain itu, Ghenduk yang dibagun warga rata-rata menggunakan bahan kayu jati dengan interior ukiran.
“Untuk membuat langgar atau Ghenduk paling murah senilai Rp 50 juta, tergantung ukuran dan kayu yang dipakai. Kalau punya saya, habis uang Rp 70 juta karena pakai kayu jati semua, karena ketahanannya sangat lama, ini saja perbaruannya sudah tahun 2009 lalu. Warga kadangkala memakai kayu selain jati, tapi rata-rata Ghenduk di kampung ini memakai kayu jati,” ungkapanya.
Di tempat yang sama, Fadi (40) warga setempat menjelaskan, adanya musala yang terbangun terpisah dengan rumah induk itu sudah menjadi tradisi di kampungnya.
“Selain memang sudah menjadi tradisi, kalau ada musala di depan rumah atau di samping rumah, mengingatkan kita untuk salat. Tetapi perlu diketahui, setiap musala tidak mengumandangkan azan dan tetap makmum kepada masjid terdekat,” akunya.
Bahkan rumah yang dibangun di kampung ini juga memiliki keunikan yakni dengan hanya dua model pembangunan rumah, diantaranya model Gudang Garam dan Paris. Untuk rumah model Gudang Garam ditandai dengan model kuno dengan hanya dua sisi pemakaian gentingnya. Sedangkan model Paris ditandai pemakaian genting dengan berbagai sisi.
“Kebanyakan warga membangun rumahnya berbentuk model Gudang Garam karena lebih mudah, yaitu hanya dua sisi gentingnya. Bahkan ketinggiannya atapnya, itu pendek disertai pilar dan ukiran dari kayu,” ungkapnya.
Terpisah, Wakil Ketua Komisi II DPRD Sampang, Alan Kaisan mengaku kagum dengan situasi di Kampung Tenjui, bahkan menurutnya wilayah tersebut layak untuk dijadikan kampung wisata. Karena banyak bangunan-bangunan rumah kuno asli Madura yang masih terawat dan bisa menarik wisatawan.
“Bangunan rumah maupun musala di Kampung Tenjui ini masih asli, banyak rumah-rumah kuno yang terbuat dari kayu. Ke depan kami akan berkoordinasi dengan Disporabudpar agar ada perhatian khusus kepada warga Kampung Tenjui, apalagi nanti bisa dikelola menjadi objek wisata baru. Oleh karenanya perlu adanya pelestarian,” katanya. (Muhlis/SOE/DIK)