Oleh: Miqdad Husein*
Kecelakaan acara Pramuka susur sungai SMPN 1, Turi, Sleman yang menewaskan 10 siswi benar-benar tragedi mengerikan. Betapa mahal yang harus dibayar akibat ego dan tumpulnya logika serta kekurang hati-hatian dari oknum pembina Pramuka.
Mereka, para siswi itu layak disebut korban ego karena seringkali berbagai aktivitas sejenis terperangkap perilaku over superior pembina atau guru. Sindrom senioritas, merasa berkuasa dan menentukan segala hal mengemuka. Anak-anak, junior seringkali menjadi sasaran pelampiasan ego merasa berkuasa itu.
Dalam dunia pendidikan pada setiap tahun ajaran baru sering ditemui kasus-kasus kecelakaan karena perilaku para senior yang kelewat batas dalam memperlakukan junior. Itu tadi, merasa superior lalu kemudian melakukan apapun hingga lepas kontrol. Baru sadar setelah korban berjatuhan dan berurusan aparat kepolisian.
Kehidupan sosial di tengah masyarakat negeri ini masih merebak hubungan senior junior dalam bingkai feodalisme. Termasuk pula di dunia pendidikan. Seorang guru seakan tahu segalanya lalu sepanjang waktu berceramah panjang lebar tanpa memberi ruang memadai para siswa mengembangkan pemikiran dan pendapatnya.
Di lingkungan Pramuka, hubungan senior dan junior tidak sehat itu mudah sekali ditemukan. Senior seakan pemegang kekuasaan yang menentukan hidup mati junior. Tak boleh ada perintah yang perlu didiskusikan sehingga potensi bahaya yang tidak tercium oleh sang seniorpun mudah menjadi bagian aktivitas pelatihan.
Ada contoh menarik. Di sebuah daerah tingkat II Jawa Barat ada pelatihan Paskibraka yang berlangsung dari jam 06.00 pagi sampai jam 18.00 sore. Melihat cara para senior melatih sungguh menjijikkan. Terlihat betapa arogannya para senior (mereka yang jadi anggota Paskibraka tahun sebelumnya). Mereka begitu berkuasa dan melatih hanya untuk acara Paskibraka seperti bersiap untuk perang besar.
Dalam kasus relasi senior junior ini logika seperti tumpul. Pikiran jernih sering terabaikan. Yang mengemuka arogansi, sikap emosional merasa paling berkuasa dan menentukan segalanya. Karena logika tidak digunakan mudah sekali terjadi aktivitas yang tidak rasional.
Aspek kesehatan, bahaya, termasuk memahami kondisi junior yang kadang kurang sehat terlupakan. Junior yang memiliki penyakit karena suasana sudah dicekam ketakutan tak berani bersuara. Atau kalau toh ada surat pengantar dokter terlupakan ketika euforia kebanggaan senior berkuasa sedang berlangsung dalam latihan. Semua baru tersentak ketika si junior tergeletak pingsang atau meninggal dunia.
Egoisme, tumpulnya logika, terseretnya suasana emosional pada ujungnya menghancurkan kehati-hatian. Perhitungan akal sehat, pertimbangan kondisi medan misalnya, tertutup kebanggaan dan heroisme semu. Gemuruh sorak sorai, gegap gempita semangat yang melebur membuat semua lupa bahaya yang mengancam.
Ketika suasana hiruk pikuk berlangsung dalam suasana semangat pantang menyerah, peringatan dan masukan orang-orang yang berada di luar acara terabaikan, kurang dipedulikan. Lagi-lagi, ketika bahaya itu datang dan korban berjatuhan baru tersentak kesadaran dan logika sehat.
Dalam kondisi musim hujan seperti sekarang ini, bahkan ketika sebelumnya ternyata hujan turun, tidak mampu menyadarkan logika dan membangkitkan kehati-hatian. Semua tenggelam dalam euforia melupakan bahaya yang diam-diam mengintip.
Itulah tragedi acara Pramuka susur sungai SMPN 1, Turi, Sleman. Musim hujan, sebelum acara sempat turun hujan, bahkan diingatkan oleh beberapa warga tetapi masih bersikeras; jelas di sini bukan hanya kecerobohan semata. Ikut berperan ego, tumpulnya logika dan mungkin juga sikap berlagak dari oknum pembina.
Lebih dari 200 siswi ikut acara tentu banyak pembina Pramuka. Lalu, demikian rendahkah kepekaan mereka, para pembina itu sehingga tak ada yang memahami ancaman bahaya medan susur sungai, yang sebenarnya kasat mata. Wallahu’alam. (*)
*Kolumnis, tinggal di Jakarta.