Oleh: MH. Said Abdullah*
Tak terasa umat Islam di seluruh penjuru dunia akan mengakhiri pelaksanaan ibadah Ramadan 1441 Hijriyah dengan ditandai pelaksanaan salat Idul Fitri. Seperti hari-hari Ramadan yang berbeda karena pandemi Covid-19, pelaksanaan perayaan Idul Fitri pun berlangsung secara khusus, tanpa Salat berjamaah di lapangan terbuka dan masjid melainkan di rumah.
Kegiatan lain menjelang, saat dan sesudah momentum Idul Fitri juga sangat berbeda. Menjelang Idul Fitri -untuk di negeri ini- tak ada kesibukan mudik seperti tahun-tahun sebelumnya. Yang ada perjuangan aparat kepolisian bekerja keras mencegah masyarakat yang masih berusaha memaksakan untuk mudik.
Saat Idul Fitri kegiatan silaturahmi pun seperti Salat yang dipindah ke rumah, dilaksanakan terbatas. Demikian pula pasca Idul Fitri kegiatan seperti halal bi halal, reuni, temu kangen dan sejenisnya praktis dihindari. Pandemi Covid-19 telah merobah seluruh aktivitas Rmadhan dan Idul Fitri.
Idul Fitri sebagai hari kemenangan ummat Islam dalam arti sesungguhnya pada tahun ini masih menyisakan lawan lain. Pasca perjuangan melawan hawa nafsu selama Ramadan sebagaimana ditegaskan hadist Rasulullah agaknya masih harus berlanjut untuk memerangi pandemi Covid-19.
Namun demikian sebagaimana juga ditegaskan Rasulullah -dalam momentum lain- perjuangan ummat Islam terberat dalam hidup ini adalah melawan hawa nafsu. Dan ummat Islam baru saja mencapai kemenangan melawan hawa nafsu di bulan Ramadan dalam suasana yang harus diakui jauh lebih berat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Usai keberhasilan menghadapi musuh terberat melawan hawa nafsu yang ditandai Idul Fitri selayaknya ummat Islam penuh optimisme menghadapi lawan pandemi Covid-19. Jika yang terberat dapat teratasi tentu yang lebih ringan dapat segera dituntaskan.
Energi kemenangan Idul Fitri diyakini akan dapat menjadi penambah kekuatan ummat Islam di negeri ini khususnya dan di berbagai penjuru dunia lainnya, bersama-sama ummat beragama lain untuk menghadapi tantangan pandemi Covid-19.
Jika ummat Islam mampu melawan dan mengendalikan hawa nafsu di bulan Ramadan tentu akan jauh lebih memiliki kekuatan dalam menghadapi pandemi Covid-19. Melawan Covid-19 memerlukan kemampuan menahan diri untuk stay at home, social distancing, memakai masker serta ketekunan menjaga kebersihan. Jelas jauh lebih ringan dibanding pertarungan sesungguhnya melawan dan mengendalikan hawa nafsu selama bulan suci Ramadan.
Tentu saja sikap waspada mutlak diperlukan. Seringkali ketika menghadapi lawan jauh lebih berat berhasil menang, mampu mengatasi namun karena sikap menganggap remeh dapat kalah dari lawan yang jauh lebih ringan.
Secara subtansi pengendalian diri, menghadapi perang melawan hawa nafsu selama Ramadan jauh lebih berat dibanding langkah-langkah sederhana seperti bersabar tinggal di rumah dalam menghadapi pandemi Covid-19. Namun sekali lagi sering sikap meremehkan membuat manusia justru kalah dari hal-hal sederhana. Tersandung seperti pepatah arif selalu pada batu yang kecil dan bukan pada gunung terpancang di depan mata.
Penting pasca Ramadan semangat pengendalian diri perlu dipertahankan. Menghadapi pandemi Covid-19 sangat jelas memerlukan ketekunan, kesabaran dan kerja keras seluruh masyarakat negeri ini.
Dalam keheningan akhir Ramadan yang ditandai gema takbir, tahlil dan tahmid yang kini jauh dari gemerlap gempita, sejatinya kepasrahan kepada Sang Pencipta, akan lebih mudah terwujud sehingga meningkatkan kekuatan spiritual dalam menghadapi pandemi Covid-19. Relasi ruhani dengan Sang Pemilik semesta akan jauh lebih lekat yang diharapkan menambah kekuatan dan ketahanan moral.
Kesyahduan Idul Fitri yang jauh dari keramaian seremonial ubudiyah niscaya akan mempermudah ritual permohonan kepada yang Sang Maha Kuasa. Akan mengemuka lebih kental kesadaran keterbatasan, ketakberdayaan, jauh dari keangkuhan diri serta sikap yang selama ini lebih mengedepankan asesoris spiritual.
Ya Allah, Tuhan semesta alam, kepadaMu kami pasrakan diri. Kepada Mu mohon ampun. KepadaMu memohon rahman dan rahimMu agar semestaMu, bumi indah ini kembali tentram, bebas dari nestapa dan duka kepahitan yang telah menguras begitu banyak air mata kepedihan.
Selamat Idul Fitri, semoga menjadi titik awal kehidupan baru yang jauh lebih baik. Aamiin…!
*Ketua Badan Anggaran DPR RI