KORANMADURA.com – Kasus positif COVID-19 di Jawa Timur hampir 14 ribu atau tepatnya 13.997 kasus. Bagaimana dengan upaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur menghadapi hal ini?
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menerapkan kerja sama pentahelix dengan berbagai elemen strategis di Jatim. Pentahelix merupakan kerja sama antarlini masyarakat. Salah satu elemen penting pentahelix yakni perguruan tinggi dan akademisi.
Kemarin, 5 Juli 2020, Khofifah telah bertemu dengan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dan Ketua Gugus Tugas Pusat Doni Monardo. Mereka melakukan video conference dengan 58 Perguruan Tinggi Negeri atau Swasta se-Jatim. Video conference ini dilakukan di Gedung Negara Grahadi Surabaya.
Khofifah ingin kerja sama pentahelix dengan keterlibatan PTN dan PTS se-Jatim bisa membantu percepatan penanganan COVID-19. Menurutnya, sinergitas semacam ini menjadi bagian penting untuk bersama-sama melawan COVID-19.
“Koordinasi secara virtual ini akan menghasilkan signifikansi penanganan COVID-19 di Jatim,” kata Khofifah di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Senin, 6 Juli 2020.
Di kesempatan yang sama, Khofifah juga berterima kasih dengan seluruh pihak yang telah bersama-sama berupaya memutus mata rantai penyebaran COVID-19.
“Terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan penguatan kepada masyarakat Jatim, khususnya penguatan yang dilakukan Pak Menko PMK, Pak Menkes serta Kepala BNPB, dengan membangun komitmen bersama 58 rektor PTN atau PTS,” lanjut Khofifah.
Menko PMK Muhadjir Effendy mengatakan, diperlukan penanganan serius kasus COVID-19 di Jatim. Untuk itu, penguatan di salah satu elemen utama pentahelix yakni perguruan tinggi dan akademisi dirasa penting.
“Perlu penanganan yang lebih serius kasus COVID-19 di Jatim. Kalau ditekan kasus di Jatim, maka secara nasional bisa ditekan secara signifikan. Mohon masukan dari PTN dan PTS se-Jatim untuk menangani COVID-19,” pungkas Muhadjir. (DETIK.com/ROS/VEM)