Oleh: Miqdad Husein (*)
Di tengah upaya pemerintah dan masyarakat berjibaku menghadapi pandemi Corona gelombang kedua, masih mudah ditemui berbagai perilaku jauh dari keadaban. Alih-alih menunjukkan keprihatinan apalagi ikut serta meringankan beban, berbagai perilaku sangat jelas justru bermuatan ‘ngerecoki’ alias mengganggu. Mereka seperti tidak peduli terhadap kondisi memprihatinkan yang menimpa rakyat.
Deretan angka terinfeksi, yang masih memperlihatkan grafik meningkat seperti tak dipedulikan. Para tenaga kerja kesehatan yang tidak memiliki kesempatan istirahat bahkan cukup besar jumlah meninggal dunia, tidak mampu membangkitkan empati. Bahkan angka kematian akibat Covid-19 yang pernah berkisar seribuan perhari, dianggap angin lalu.
Pandemi yang telah mengorbankan nyawa rakyat, benar-benar tidak mampu membangkitkan empati dan kepedulian serta keprihatinan. Mereka tetap saja mengedepankan ego dalam ekspresi kepentingan kekuasaan.
Deretan ambulance mengantar jenazah korban terinfeksi Covid-19, yang mudah disaksikan di berbagai media, termasuk media sosial, tidak mampu membangkitkan naluri kemanusiaan mereka. Duka cita keluarga korban dan penderitaan para korban terinfeksi, yang pontang panting mencari rumah sakit, yang pusing tujuh keliling mencari pasokan oksigen, ada yang sampai terlambat hingga meninggal dunia, tetap saja mereka bersikap dan berperilaku seakan kondisi sedang normal.
Berbagai peristiwa getir kasat mata, yang dapat dilihat dengan mudah saja, tidak menggerakkan naluri kemanusiaan. Apalagi hal yang kurang terlihat seperti penderitaan masyarakat, yang terpaksa berdiam di rumah, tidak dapat bekerja. Termasuk mereka, yang hampir pasti mengalami kesulitan ketika harus di PHK atau para pedagang kaki lima yang tak bisa lagi berdagang.
Semua mengetahui kondisi saat ini. Pemerintah, masyarakat, siapapun sedang dalam kesulitan luar biasa; dalam mengatasi pandemi maupun dampaknya, terhadap berbagai sektor kehidupan.
Tapi lihatlah, perilaku beberapa politisi dari partai yang kebetulan berada di luar kekuasaan, para politisi yang tidak mendapat kue kekuasaan, serta tokoh-tokoh, ustaz-ustaz yang berpolitik berbaju agama. Mereka, benar-benar memperlihatkan wajah dan perilaku jauh dari keadaban dan nilai kemanusiaan. Dalam situasi nestapa, duka dan air mata, masih saja mereka mengedepankan ego syahwat kekuasaan. Pilpres 2019 seakan masih berlangsung.
Sebuah demo meminta Jokowi mundur dilakukan beberapa puluh pendukung Rizal Ramli di Jakarta (11/7). Mereka menawarkan Rizal Ramli sebagai Presiden untuk menggantikan Jokowi. Tagar Jokowi mundur sempat beredar di jejaring sosial.
Rocky Gerung berteriak nyaring meminta Jokowi mundur. Alasan Rocky karena Jokowi dianggap gagal. Ironisnya, Rocky menyodorkan Anies Baswedan sebagai pengganti yang faktual gagal mengatasi Covid-19 di Jakarta, hingga menjadi pemasok terbesar -hampir separuh- keseluruhan kasus terinfeksi di Indonesia.
Dua anak Susilo Bambang Yudhoyono, Ibas dan AHY tak kalah nyaring berkomentar nyinyir. Keduanya kompak menyebut Indonesia berpotensi menjadi negara gagal karena kasus Covid-19 yang disebut belum dapat teratasi.
Dalam keadaan normal berbagai komentar bernuansa syahwat kekuasaan dapat dipahami sebagai bagian dinamika politik dan sikap wajar oposisi. Namun ketika suasana demikian memprihatinkan, ketika nyawa rakyat berguguran menjadi korban Covid-19, ketika pemerintah, tenaga kesehatan dan rakyat bertarung nyawa, berbicara tentang kekuasaan jelas merupakan tragedi. Tragedi kemanusiaan memilukan.
Inilah salah satu potret buram dunia politik karena perilaku oposisi di negeri ini. Mereka tidak mampu menempatkan diri dan berpolitik berkeadaban. Ketika negara serta rakyat sedang mendapat musibah pandemi Covid-19, berjibaku bertarung nyawa, masih saja berbicara tentang kekuasaan.
Di dunia, praktis hanya di Indonesia persoalan politik kekuasaan mengemuka menyelinap kesibukan sebagian besar kekuatan bangsa yang sedang bertarung nyawa menghadapi pandemi Covid-19. Bukannya membantu atau paling tidak diam, mereka justru menjadi kerikil dalam sepatu.
Pandemi terjadi di seluruh dunia. Tidak ada satupun negara yang merasa benar-benar berhasil mengatasi pandemi. Selalu juga faktor kedisiplinan masyarakat menjadi penyebab utama peningkatan terinfeksi.
Sangat banyak kasus negara yang sebelumnya disebut berhasil mengatasi pandemi tiba-tiba kelabakan lagi seperti India, Prancis, Jerman, Turki, Pakistan, Filipina, Malaysia, Argentina, Singapura, Taiwan, Vietnam, Jepang dan entah berapa lagi. Beberapa negara yang dalam piala Eropa terlihat sukses ternyata belakangan kembali menghadapi serbuan Covid-19. Semua masih benar-benar tiada terduga.
Dari situlah mengapa praktis seluruh kekuatan di berbagai negara bahu membahu. Tidak ada suara nyinyir dari para oposisi yang mengedepankan syahwat kekuasaan. Hukum tertinggi tentang kepentingan keselamatan rakyat menjadi prioritas, komitmen seluruh kekuatan tanpa kecuali.
Perbedaan cara penanganan pandemi mungkin ada. Pada poin ini biasanya berlangsung perbincangan di antara kekuatan bangsa. Jauh dari lintasan persoalan politik kekuasaan.
Demikianlah. Siapapun yang merasa sebagai rakyat tanpa kecuali harus bahu membahu berusaha memutus pandemi. Baik melalui disiplin diri menerapkan Prokes maupun partisipasi aktif. (*)
*Kolumnis, tinggal di Jakarta.