JAKARTA, Koranmadura.com – Dengan menutup pintu kerja sama dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), PDI Perjuangan dinilai tetap bisa bekerja sama dengan partai politik Islam, tetapi dengan kelompok Islam moderat. Hal itu sudah dilakukan PDI Perjuangan pada pemilu 2014 dan 2019.
Demikian diungkapkan pengamat politik dari President University, Muhammad AS Hikam, di Jakarta Senin 27 Juni 2022. Ia ditanya tentang peta koalisi atau kerja sama politik pada pemilu presiden dan wakil presiden (Pilpres) 2024.
“Tentunya akan lebih menguntungkan PDIP, jika mereka bisa menggandeng basis massa Islam moderat seperti tahun 2014 dan 2019,” ujar mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi era Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) itu.
Adapun terkait dicoretnya PKS dari daftar partai politik yang bisa bekerja sama dengan PDI Perjuangan, Muhammad AS Hikam menilai karena kedua partai itu memiliki ideologi dan basis massa yang berbeda.
“Dengan PKS karena perbedaan ideologi dan basis massa (nasionalis vs Islamis; massa bawah pedesaan dan menengah perkotaan vs basis perkotaan menengah),” jelas Hikam.
Meski demikian, kata Muhammad AS Hikam, peta politik ke depan terkait koalisi atau kerja sama antarpartai politik ini masih bisa berubah-ubah. Pasalnya, saat ini penjajakan koalisi atau kerja samanya masih sangat cair.
“Sesungguhnya dinamika calon kandidat dan koalisi parpol ini masih cair, bahkan bagi PDIP yang tampak di luar sudah punya kartu menjadi pengusung tunggal sekalipun,” kata Muhammad AS Hikam lagi. (Carol)