JAKARTA, Koranmadura.com – Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar melaporkan lima rekomendasi hasil pertemuan seluruh kader utama PKB kepada Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan pada Senin 31 Oktober 2022.
Pertemuan kader utama PKB itu sudah berlangsung di Jakarta beberapa hari lalu yang dihadiri 5.000 mulai dari para kepala dan wakil kepala daerah asal PKB serta seluruh anggota legislatif seluruh Indonesia.
“Hari ini DPP PKB, saya sebagai ketua umum beraudiensi dengan bapak Presiden Jokowi. Maksud audiensi ini melaporkan pertemuan seluruh kader utama PKB yang 3 hari di Jakarta kemarin, 5 ribu kader utama yang merupakan pengurus dan anggota legislatif maupun eksekutif berkumpul di Jakarta dan menyampaikan beberapa hasil dari pertemuan itu,” kata Muhaimin Iskandar kepada wartawan.
Lebih jauh ia menjelaskan, pertemuan para kader utama PKB itu menghasilkan lima rekomendasi. Rekomendasi-rekomendasi itu yang diserahkan Muhaimin Iskandar dalam pertemuannya dengan Presiden Jokowi hari ini.
“Rekomendasi yang pertama, tentang subsidi BBM. Apakah memungkinkan kalau sepeda motor diturunkan sehingga mendapatkan subsidi, harga BBM menjadi turun untuk khusus sepeda motor dan angkutan umum. Tapi tadi masih dihitung lagi karena ternyata pemilik sepeda motor itu jumlahnya 70 juta,” ucap Muhaimin Iskandar.
Rekomendasi kedua mengenai pupuk. Kata Muhaimin Iskandar, pupuk menjadi kegelisahan seluruh kader utama PKB di daerah. PKB memberi masukan agar pupuk diprioritaskan untuk petani yang memiliki tanah setengah hektare.
“Tadi lagi dicari jalan keluar karena memang akibat perang itu produksi pupuk memang menurun di seluruh dunia, bukan hanya di Indonesia. Karena itu ya kami beri masukan untuk jadi pertimbangan bagaimana kalau pupuk itu diprioritaskan untuk orang hanya dengan tanah setengah hektar,” kata mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi itu.
Pria yang kini menjadi Wakil Ketua DPR meneruskan, “Subsidinya difokuskan kepada petani dengan pemilik tanah setengah hektare. Tapi tadi akan dikaji dan dilihat karena produksi global pupuk ini memang ada kendala perang, kendala krisis, dan pasokan gas dari Rusia maupun Ukraina.” (Sander)