JAKARTA, Koranmadura.com – Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan pesan dari ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA) atau AIPA Message di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-42 di Labuan Bajo, Rabu 10 Mei 2023.
Sebelum acara dimulai, Puan sempat beramah tamah dengan Presiden Jokowi sebagai Ketua ASEAN 2023 di pelataran Hotel Meruorah, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT. Dalam ramah tamah tersebut, hadir pula Perdana Menteri Malaysia Dato Seri Haji Anwar bin Ibrahim serta serta sejumlah kepala negara ASEAN lainnya.
Adapun AIPA Message disampaikan Puan dalam agenda ASEAN-AIPA Leaders Interface Meeting yang merupakan salah satu rangkaian acara di KTT ASEAN. ASEAN-AIPA Leaders Interface Meeting merupakan sesi pleno antara pimpinan pemerintahan dan pimpinan parlemen negara-negara Asia Tenggara.
Memasuki lokasi acara yang digelar di Ballroom Meruorah Convention Center, Puan disambut oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris turut mendampingi Puan.
ASEAN-AIPA Leaders Interface Meeting dibuka oleh Presiden Jokowi sebagai tuan rumah acara. Ia kemudian mempersilahkan Puan untuk berpidato dan menyampaikan AIPA Message yang sudah disusun oleh pimpinan-pimpinan parlemen ASEAN dalam Preparatory Meeting kemarin, Selasa 9 Mei 2023.
“Saya merasa terhormat untuk menyampaikan ucapan selamat yang paling hangat kepada Presiden Joko Widodo sebagai Ketua ASEAN,” kata Puan yang menyampaikan sambutannya dengan Bahasa Inggris.
Puan meneruskan, “Saya percaya bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, ASEAN memiliki peluang yang berbeda untuk menunjukkan kepentingan strategisnya bagi kawasan dan komunitas global.”
Dalam pidatonya itu, Puan menyoroti pertumbuhan ekonomi ASEAN pada tahun 2023 yang mencapai 4,8 persen. Angka ini lebih tinggi dari pada pertumbuhan ekonomi dunia yang hanya naik 2,8 persen. Karena itu, Puan Maharani menyebut ASEAN sebagai epicentrum pertumbuhan.
“Namun dengan tantangan global yang belum pernah terjadi sebelumnya dan dinamika regional yang membayangi kawasan, kami juga menyadari bahwa masih banyak yang harus dilakukan dalam hal menjaga stabilitas kawasan sebagai prasyarat pembangunan,” ujar Puan.
Tantangan-tantangan yang dimaksud seperti pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19, perubahan iklim yang membuat cuaca sulit diprediksi, krisis energi dan pangan yang disebabkan oleh perang. Kemudian, tambah Puan, meningkatnya ketegangan geopolitik yang dipicu oleh konflik kepentingan.
“Kita dituntut untuk bekerja sama secara erat, pemerintah dan parlemen, eksekutif dan legislatif, untuk memperkuat posisi kita saat kita bergerak maju untuk memastikan kemakmuran bagi rakyat kita,” sebut mantan Menko PMK tersebut.
Dia meneruskan, “Oleh karena itu, sebagai anggota parlemen, kami siap memberikan dukungan politik dan bekerja dengan rekan-rekan ASEAN kami untuk melewati masa-masa sulit ini dan membangun ASEAN yang lebih gesit.” (Sander)