JAKARTA, Koranmadura.com – Pengamat Politik dari Universitas Indonesia (UI), Doni Gahral berharap, semua pihak menjaga situasi menjelang Pemilu 2024 agar tidak berkembang ke situasi yang tidak diharapkan. Terutama, pemerintah harus benar-benar netral agar tidak terjadi kaos.
“Semua pihak harus menjaga jangan sampai mengerucut ke situasi yang tidak diharapkan. Damai itu bisa dicapai kalau aparatur negara, ASN, TNI Polri netral,” kata Doni Gahral dalam Konferensi Pers Komitmen Ganjar-Mahfud Pemilu Damai 2024 yang digelar Media Center TPN Ganjar-Mahfud di Rumah Cemara 19, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa, 28 November 2024.
Menurut Doni, ibarat pertandingan bola, situasi jadi ribut kalau wasitnya memihak salah satu kesebelasan.
“Makanya belakangan ada VAR. Ada aturan yang mengatur wasit sehingga wasit tidak bisa atau sulit memihak,” kata Doni.
Menurut Doni, pemilu pasti dipenuhi syahwasangka, kecurigaan. Kalau aparat negara tidak netral maka kecurigaan itu akan menjadi sesuatu yang tidak hanya di pikiran masyarakat tapi bisa jadi kenyataan di lapangan. Kalau itu terjadi di lapangan maka pemilu tidak damai bisa terjadi.
Jadi, kata Doni, pemilu damai jangan cuma persoalan pakta integritas tapi juga di lapangan harus terlihat adanya keadilan, fairness. Negara harus imparsial. Negara harus tidak berpihak. Karena esensi negara adalah melayani semua.
“Aparatur negara tidak boleh melayani satu kelompok. Ini aturan main ribuan tahun sejak negara ada,” kata Doni.
Menurut Doni, kalau soal netralitas aparat negara ini diingkari, lalu ada bukti konkret, ditambah tidak ada sanksi atau follow up dari penyelenggara pemilu maka bisa berpotensi terjadinya satu kondisi dinamis chaotis.
Sebab, kata Doni, Pemilu diikuti jutaan pemilih yang berpartisipasi. Saat terjadi friksi akibat ketidaknetralan maka ini bisa diibaratkan istilahnya daun kering. Yaitu kondisi yang mudah tersulut dan terbakar.
“Jangan biarkan voter di pemilu jadi daun kering karena ada ketidaknetralan dan ada ketidakadilan. Kita tidak mau pemilu yang merupakan pesta demokrasi riang gembira berubah jadi drama atau malapetaka demokrasi. Itu akarnya adalah netralitas, ketidakadilan dan ketidakjujuran,” kata Doni.
Doni mengatakan, hal ini merupakan peringatan, sebab dirinya tidak mau bangsa yang besar jadi porakporanda karena kontestasi politik.
“Perlu ada komitmen kuat, baik itu dari 3 paslon, termasuk juga penyelenggara negara dan pemilu. Semua harus satu kata dan perbuatan,” kata Doni.
Doni mengatakan, begitu masyarakat melihat ada ketidakadilan dalam penyelenggaraan pemilu maka ini adalah embrio dari malapetaka demokrasi.
Ditanya soal debat capres dan cawapres, Doni mengatakan, debat capres dan cawapres yang berkualitas adalah sebuah perdebatan dan ingin ada bertengkar secara gagasan.
“Yakni bersilat lidah di ruang publik tanpa terjadi gesekan sosial. Karena jutaan pemilih punya loyalitas, militansi dan rasa memiliki yang kuat terhadap yang dipilih nya,” kata Doni.
Jadi Doni mengingatkan agar para pemangku kepentingan dalam pemilu di sini harus benar-benar menjaga agar pemilu menjadi pesta demokrasi dan bukan malapetaka demokrasi.
“Debat yang bagus adalah harus ada pertengkaran pikiran. Kalau cuman paparan kampanye maka itu bukan debat. Harus ada gesekan pikiran. Kandidat itu harus ditanya pikiran terjauhnya tentang negara,” kata Doni.
Menurut Doni, rakyat ingin menyaksikan perdebatan di acara debat dan buka. kampanye.
Selain ada pertengkaran pemikiran, calon juga harus detail menjawab pertanyaan. Sebab kalau sekadar memaparkan visi misi itu maka itu terlalu umum. Jadi seharusnya didetailkan ke praktis.
“Kandidat harus menguasai apa yang jadi bahan perdebatan itu. Kalau soal yang ditanyakan itu tidak bisa dijawab kandidat maka sebaiknya jangan ikut debat capres tapi suruh saja staf ahlinya yang berdebat,” kata Doni.
Doni mengatakan, vsi misi itu sudah disampaikan dan bisa didownload, jadi tidak perlu untuk dipaparkan lagi saat debat capres.
“Jangan menyerang person. Sebab yang harus dipertengkarkan adalah gagasan. Kalau ada kandidat yang menyerang person maka pasti akan ditinggalkan pemirsa yang nonton perdebatan,” pungkas Doni. (Gema)