JAKARTA, Koranmadura.com – Siti Atikoh Supriyanti yang akrab disapa Atikoh menjadi daya tarik tersendiri selama mengkampanyekan Ganjar Pranowo, suaminya, sebagai Calon Presiden (Capres) Nomor Urut 3 dalam kontestasi Pilpres 2024.
Tampil sederhana, ramah, dan energik, Siti Atikoh berkampanye ke berbagai daerah. Ia terjun langsung ke komunitas perempuan, kelompok pengajian, pelaku UMKM, dan pencinta olahraga di berbagai daerah.
Di mata masyarakat, Siti Atikoh tampil sebagai perempuan yang memberikan nilai tambah pada kampanye Pilpres, yang kini gencar dilakukan Ganjar.
Apa yang dilakukan Siti Atikoh sama sekali tak terlihat pada istri capres lainnya, baik Anies Baswedan maupun Prabowo Subianto.
Cara bertutur Siti Atikoh yang santun, namun tegas mengingatkan pada sosok Michelle Obama, istri Presiden ke-44 Amerika Serikat (AS), Barack Obama.
Saat Obama maju sebagai capres, Michelle berperan sangat penting, karena tak hanya menjadi pendamping atau istri, juga membantu aktivitas kampanye sang suami.
Obama mengakui bahwa Michelle menjadi hal yang paling disukai rakyat Amerika Serikat (AS) terkait Obama.
Presiden kulit hitam pertama AS itu mengungkapkan bahwa menikahi Michelle adalah peringkat pertama dalam daftar 100 hal paling populer tentang Obama.
Michelle Obama
Jika ditelaah, memang ada beberapa kemiripan antara Siti Atikoh dengan Michelle Obama. Keduanya sama-sama perempuan cerdas dan menjadi wanita karier, sebelum akhirnya memutuskan menjadi ibu rumah tangga dan mendampingi suami yang terjun ke politik.

Siti Atikoh tercatat sebagai Lulusan Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta pada tahun 1997.
Selama masa kuliahnya, Siti Atikoh bekerja sebagai wartawan di Harian Umum “Solopos.”
“Saya tertarik menjadi wartawan karena Bapak saya pernah bekerja sebagai wartawan dan sering cerita nostalgia ketika menjadi wartawan,” kata Siti Atikoh di Semarang, Jawa Tengah, pada Selasa 2 Januari 2024.
Tamat dari Fakultas Tekonologi Pertanian UGM, Atikoh menikah dengan Ganjar pada September 1999.
Pada saat bersamaan, Siti Atikoh mendaftar sebagai calon pegawai negeri sipil (CPNS) untuk penempatan di Purbalingga, Jawa Tengah.
Langkah itu ditempuh untuk memenuhi dorongan keluarganya yang tidak ingin Siti Atikoh tetap berprofesi sebagai wartawan, yang waktunya banyak tersita sehingga urusan rumah tangga bisa keteteran.
Siti Atikoh kemudian menjadi PNS di Purbalingga, tempat kelahirannya. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 14 Desember 2001, Siti Atikoh dan Ganjar dikarunia seorang putra yang diberi nama Muhammad Zinedine Alam Ganjar.
Ketika Ganjar terpilih menjadi anggota DPR RI, Siti Atikoh kemudian bekerja sebagai PNS di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, sejak masa kepemimpinan Gubernur Fauzi Bowo, Joko Widodo, hingga Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.
Pada tahun 2007, Siti Atikoh yang masih berstatus sebagai PNS mendapat tawaran beasiswa S2 untuk melanjutkan pendidikan Strata 2 di Universitas Tokyo, Jepang dengan mengambil program studi Kebijakan Publik.
Tawaran itu menimbulkan gejolak di hati Atikoh karena harus meninggalkan Alam, yang masih baru masuk Sekolah Dasar (SD).
Dorongan dari Ganjar membuatnya mengambil beasiswa itu dan berkuliah di Jepang selama dua tahun.
“Kata Mas Ganjar, ini kesempatan baik, dan kesempatan belum tentu datang dua kali. Soal Alam enggak usah khawatir, saya bisa jagain, bisa kasih pengertian. Makanya bersyukur banget punya suami yang sangat mendukung karier istrinya,” ujar Atikoh.
Keputusannya meninggalkan pekerjaan sebagai PNS datang, ketika Ganjar terpilih sebagai Gubernur Jawa Tengah, tahun 2013.
Awalnya, Siti Atikoh mengambil cuti selama 3 tahun, akhirnya ia mantap mundur dari PNS.
Keputusannya untuk meninggalkan karier dan sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga, sama sekali bukan karena paksaan apalagi tekanan dari Ganjar.
“Alhamdulillan, Mas Ganjar itu tipikal orang yang bangga kalau perempuan itu mandiri. Bukan malah yang menyuruh berhenti, kamu gajinya berapa sih, aku bisa kok gaji kamu. Aku memilih mundur karena merasa bersalah sama Alam, sering ditinggal. Tapi pas ditanya, anaknya malah appreciate ibunya bekerja,” tutur Siti Atikoh sambil tertawa.
Siti Atikoh bertutur, dia mantap meninggalkan karier dan memilih menjadi ibu rumah tangga yang tetap aktif menopang kehidupan suami dan keluarga, karena belajar dari sosok ibunya.
Perempuan Mandiri
Menurut Siti Atikoh, ibunya adalah seorang ibu rumah tangga yang mandiri dan mengajarkan anak-anak perempuannya untuk mandiri, minimal bisa mencukupi kebutuhan diri sendiri.

“Kalau dari sisi sumbangsih ekonomi keluarga, lebih tinggi penghasilan ibu dari ayah. Ibu itu punya usaha angkutan dan toko, tapi tiap ditanya profesinya tetap dijawab dengan bangga ibu rumah tangga,” ujar Atikoh.
Itu sebabnya, Siti Atikoh tidak keberatan melepas kariernya sebagai PNS, kemudian memilih mendampingi Ganjar Pranowo dan membesarkan putra semata wayang mereka, Alam.
“Menjadi ibu rumah tangga itu pekerjaan paling mulia. Saya bangga jadi ibu rumah tangga. Saya belajar itu dari ibu saya,” ungkap Siti Atikoh.
Pilihan Siti Atikoh menjadi ibu rumah tangga dan bangga dengan predikat itu, juga sejalan dengan Michelle Obama.
Istri Barack Obama ini sudah berprofesi sebagai seorang pengacara di firma hukum Sidley Austin LLP.
Dia bahkan ditunjuk sebagai mentor Obama yang bergabung di firma tersebut. Meski demikian, Michelle memilih berada di balik layar untuk menopang suaminya, Obama, yang terjun ke dunia politik menjadi senator kemudian terpilih menjadi presiden AS ke-44 selama dua periode.
Siti Atikoh mengatakan, dia sangat mendukung kesetaraan jender dan mendorong perempuan untuk mandiri.
Menurutnya, mandiri tak berarti harus bekerja kantoran, karena saat ini banyak peluang bagi perempuan untuk bekerja dari rumah.
“Perempuan mandiri itu, punya harapan, karena enggak menggantungkan hidupnya kepada orang lain, termasuk suami, sebab enggak ada yang tahu ke depan akan seperti apa,” ujarnya.
Dia meneruskan, “Perempuan mandiri itu akan lebih bahagia, karena tahu apa yang harus dilakukan, apa yang menjadi pilihannya. Perempuan mandiri itu menghargai waktu bersama keluarga, anak, bahkan untuk dirinya sendiri.”
Dia menambahkan setiap perempuan mandiri tetap membutuhkan support system. Bagi yang sudah menikah, maka support system utama bagi perempuan mandiri adalah suami dan anak.
“Support system itu paling utama, karena bisa mendorong perempuan mandiri menjadi dirinya sendiri ke mana pun dia pergi, dan bisa beraktivitas tanpa beban,” jelas Siti Atikoh.
Itu sebabnya, Siti Atikoh mengaku sangat konsen dengan isu kesetaraan jender, KDRT, parenting, bahkan mental health yang kini menjadi sorotan publik.
Saat mendampingi Ganjar sebagai gubernur Jawa Tengah, Siti Atikoh lebih banyak terlibat pada kegiatan sosialisasi dan edukasi, termasuk mental health ke ibu-ibu untuk mengahdapi anak-anak usia SMA.
“Ke depan mungkin harus melibatkan Guru Bimbingan dan Konseling (BK) agar mempunyai background Psikologi, jadi anak-anak yang menghadap ke BK itu bukan dimarahi karena bermasalah, tapi dievaluasi, digali masalahnya, dan bisa melakukan pendampingan,” ujar Atikoh. (Gema)