SUMENEP, koranmadura.com – Meskipun pemerintah telah menerapkan satu harga bahan bakar minyak (BBM) secara nasional, namun di Kecamatan/Pulau Raas, Sumenep, Madura Jawa Timur, masih dijual bebas melebihi harga eceran tertinggi.
Saat ini, harga BBM jenis premium di Raas mencapai Rp 10 ribu per botol, sementara solar sekitar Rp 8 ribu per botol. Padahal semestinya, sesuai keputusan pihak Pertamina, harga premium untuk daerah Jawa, Madura, dan Bali Rp 7.050 dan solar Rp 5.650 per satu liter.
“Saat ini harga BBM Rp 10 ribu. Itu pun kami temukan di pengecer yang berjualan di pinggir jalan,” kata Fauzi Muhfa, saat mendatangi kantor DPRD Sumenep, Selasa, 18 Juli 2017.
Menurut pria asal Kecamatan/Pulau Raas itu, salah satu faktor penyebab melambungnya harga BBM itu adalah agen penyalur minyak dan solar (APMS) belum beroperasi. Padahal pengelola APMS 04 itu telah mendapatkan izin sejak 2013.
Belum beroperasinya APMS milik H Murahwi itu menimbulkan persepsi miring di masyarakat setempat. “Nah, apakah tidak beroperasinya ini karena faktor kesengajaan, atau ada bargaining dan setting, sehingga pembangunan APMS belum selesai, dan sebagainya, kami kurang mengerti. Yang jelas, sampai saat ini, APMS belum beroperasi,” ungkapnya.
Selama ini, kata Syaiful, ketika ada pengiriman dari Pertamina, dari kapal tangker dimasukkan ke drum, bukan dimasukkan ke APMS. Setelah itu, baru dijual kepada pihak lain dengan harga Rp 6 ribu per liter untuk solar. Sementara premium dijual di atas Rp 7 ribu per liternya. Setiap pengiriman sekitar 60 KL.
“Adanya APMS kan untuk menyalurkan BBM sehingga harganya sama nanti, bukan sebaliknya, malah harga BBM saat ini melebihi HET. Kami harap wakil rakyat ini bisa membawa aspirasi kami,” tandasnya.
https://www.koranmadura.com/2017/07/18/harga-bbm-di-kangean-tembus-rp-20-ribu-per-liter/
Sementara Murahwi membenarkan APMS 04 hingga saat ini belum beroperasi karena pembangunannya belum selesai. “Tangkinya baru dikirim bulan puasa kemarin,” katanya.
Dia menyatakan ketersediaan BBM di Raas dipastikan aman untuk saat ini. Apabila terjadi kekosongan itu, karena pengiriman dari Pertamina lambat, baik karena faktor cuaca atau yang lain. “Terkadang sekarang kami bayar, masih satu bulan baru dikirim. Kan uang saya ngendap di sana. Kalau dibelikan semen atau apa, kan lebih banyak hasilnya. Tapi, demi kebutuhan masyarakat, tidak masalah,” tukasnya. (JUNAIDI/RAH)