SUMENEP, koranmadura.com – Upacara peringatan HUT Kemerdekaan Indonesia di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, diwarnai pertunjukan drama kolosal perjuangan kemerdekaan di Bumi Madura, Kamis, 17 Agustus 2017.
Drama kolosal yang dipersembahkan Kodim 0827 dan SMAN I Sumenep itu berjudul Resimen Jokotole. Pemain drama ini merupakan kolaborasi antara prajurit TNI dan siswa.
Dalam drama tersebut dikisahkan, bahwa tak lama setelah proklamasi Indonesia, tepatnya 25 September 1945, terjadi perundingan dan serah terima Residen Madura dari Jepang kepada Bangsa Indonesia.
Residen Madura kemudian dipimpin oleh R. A. Tjakraningrat. Residen ini dipertahankan oleh satu Resimen TNI, yaitu Resimen 35 atau dikenal sebagai Resimen Jokotole.
Resimen Jokotole dibagi ke dalam empat sektor, yaitu di daerah Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Empat sektor tersebut secara berurutan dipimpin oleh Mayor R. Hanafi, Mayor R. Tjokrodiredjo, Mayor R. Mangkuadiningrat, dan Mator R. Abd. Majid.
Setelah hampir satu tahun, Pasukan Sekutu ternyata kembali mengintai Madura. Pada tanggal 5 Juli 1946, tentara Belanda mendarat di timur pelabuhan Kamal. Letnan R.P. Mohammad Ramli bersama pasukannya mencoba menghadang mereka. Sehingga pertempuran tak terelakkan.
Lentan R.P. Mohammad Ramli gugur. Jenazahnya dibawa ke Sumenep dan dimakamkan di Asta Tinggi, sebuah komplek pemakaman raja-raja Sumenep, di Desa Kebonagung, Kecamatan Kota.
Pasukan Sekutu mulai mengultimatum rakyat Madura serta memintah menyerahkan senjata mereka. Rakyat yang ketakutan kemudian melaporkan adanya ultimatum itu kepada para pejuang Madura.
Untuk melawan Pasukan Sekutu, Letkol R. Chandra. Hassan yang membawahi empat pimpinan Resimen Jokotole berkoordinasi dengan laskar kemasyarakatan. Di antaranya Hisbullah, Sabilillah, BPRI, Pesindo, IPI dan PMI.
Tanggal 4 Agustus 1947, Pasukan Sekutu masuk kembali ke Madura melalui jalur laut. Mereka berlabuh di beberapa wilayah di Madura, di antaranya Socah, Burneh, Camplong, dan Tlanakan. Mereka terus bergerak menuju Pamekasan sebagai Ibu Kota Residen Madura.
Sesampainya di Pamekasan, pertempuran kembali terjadi dan berlangsung dengan sengit. Sehingga tak sedikit rakyat dan pejuang yang gugur dalam pertempuran waktu itu.
“Drama kolosal ini kami tampilkan untuk menggambarkan sulitnya para pejuang, para santri dan ulama dalam memperjuangkan kemerdekaan, khususnya di Madura ini,” ungkap Komandan Kodim 0827 Sumenep, Letkol Inf. Budi Santosa.
Mengenai data-data sejarah yang ditampilkan, menurut dia pihaknya bekoordinasi dengan pemerintah daerah, termasuk Disparbudpora. “Selain itu kami sendiri juga punya catatan-catatan sejarah,” tambah dia. (FATHOL ALIF)